Kamis, 10 November 2016

I love analisis “SEMIOTIKA”




       Beberapa kali nemuin analisis semiotika ini dibeberapa penelitian skripsi maupun tesis dan sering dibahas di beberapa matakuliah waktu S1 maupun S2. Menarik, sangat menarik semiotika adalah ilmu tentang tanda. Pernah kah kalian sadari kalau kita hidup dipenuhi dengan simbol, tanda maupun lambang-lambang yang semua itu mempunyai makna tertentu jika kita menggalinya lebih dalam. bergelut didunia yang penuh simbol yang mempunyai banyak makna jika ditafsirkan tidak heran banyak ilmuan maupun peneliti yang menganalisis tanda dan simbol.

            Dengan analisis semiotika ini kita bisa menganalisis sebuah film, video klip, syair dalam lagu, iklan, kemasan, program, sinetron dan masih banyak lainya yang bisa kita teliti dengan analisis semiotika ini guys. Disini aku mau berbagi ilmu tentang analisis semiotika, apa sih sebenarnya semiotika itu ????.....

                Secara etimologis, istilah semiotik berasal dari kata yunani semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya , dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. Secara terminologis, semiotika dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.



                   Semiotik sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial, memahami dunia sebagai suatu sistem hubungan yang memiliki unit dasar dengan ‘tanda’. Maka dari itu, semiotik memepelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda. Ahli semiotik, Umberto Eco menyebut tanda sebagai suatu kebohongan dan dalam tanda ada sesuatu yang tersembunyi dibaliknya dan bukan merupakan tanda itu sendiri.

Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungan denga tanda-tanda lain, pengirimannya oleh mereka yang menggunakannya.

Tanda-tanda (sign) adalah basis atau dasar dari seluruh komunikasi kata pakar Komunikasi Littlejohn yan terkenal dengan bukunya:”Theories on Human Behaviour”(1996). Menurtu Littlejohn, manusia dengan perantara tanda-tanda dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya dan banyak hal yang bisa dikomunikasikan didunia ini. Menurut Umberto Eco ahli semiotik yang lain, kajian semiotik sampai sekarang membedakan dua jenis semiotik yakni semiotik komunikasi dan semiotik signifikan. Semiotik komunikasi menekannkan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya eman faktor dalam komunikasi yaitu, pengirim, penerima kode atau sistem tanda, pesan, saluran komunikasi dan acuan yang dibicarakan. Sementara, semiotik signifikan tidak mempersoalkan adanya tujuan berkomunikasi. Pada jenis yang kedua, yang lebih diutamakan adalah segi pemahaman suatu tanda sehingga proses kognisinya pada penerima tanda lebih diperhatikan ketimbang prosesnya.

           Fokus utama semiotik adalah teks. Model proses linier memberi perhatian kepada teks tidak lebih seperti tahapan-tahpan yang lain di dalam proes komunikasi: memang beberapa diantara model-model tersebut melewatinya begitu saja, hampir tanpa komentar apapun. Hal tersebut adalah salah satu perbedaan mendasar dari pendekatan proses dan pendekatan semiotik. Didalam semiotik, penerima, pembaca, dipandang memiliki peranan yang lebih aktif dibandingkan sebagian besar model proses (model gerbner adalah sebuah pengecualian). Semiotik lebih memilih istilah ‘pembaca’(reader)’(juga berlaku pada foto dan lukisan) dibandingkan ‘penerima(receiver)’ karena istilah tersebut menunjukan derajat aktivitas yang lebih besar dan juga membaca adalah suatu yang kita pelajari untuk melakukanhya; jadi hal tersebut ditentukan oleh pengalaman budaya pembaca. Pembaca membantu untuk menciptakan makna dari teks dengan membawa pengalaman, sikap, dan emosi yang dimiliki kedalam makna. Semiotik menurut Charles Morris, memiliki tiga cabang , yakni sintaktika ‘studi relasi formal tanda-tanda’, semantika ‘studi relasi dengan penafsirannya’, dan pragmatika ‘cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggabungan satuan-satuan kebahasaan.

Saussure dianggap mengabaikan mengabaikan subjek sebagai agen perubahan sistem bahasa, Peirce, sebaliknya, melihat subjek sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses signifikasi.

            Semua model-model mengenai makna secara luas memiliki bentuk yang hampir sama. Masing-masing terfokus pada tiga elemen yang dengan cara tertentu ataupun cara yang lain, pasti terlibat didalam semua kajian mengenai makna. Elemen-elemen tersebut adalah : (1) tanda, (2) acuan dari tanda, dan (3) pengguna tanda. Sebah tanda adalah sesuatu yang bersifat fisik, dapat diterima oleh indera kita; mengacu pada sesuatu diluar dirinya; dan bergantung pada pengenalan dari para pengguna bahwa itu adalah tanda. Peirce (dan Ogden dan Richards) memandang tanda, acuan tanda, dan penggunaan tanda sebagai tiga titik dari sebuah segitiga. Masih-masih terhubung secara dekat dengan dua yang lian, dan hanya dapat memahami hanya dapat dapat dipahami didalam kaitan dengan yang lanya. Saussure mengambil jalur yang sedikit berbeda. Saussure menyatakan bahwa tanda terdiri dari bentuk fisik ditambah sebuah konsep mental terkait, dan konsep tersebut merupakan tangkapan dari realitas eksternal. Tanda berhubungan dengan realitas hanya melalui konsep-konsep dari orang yang menggunakannya.

         Sekurang-kurangnya terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang,

Semiotik Analitik, yakni semiotik yang menganalisi sistem tanda, Pierce menyatakan bahwa semiotik berobjekan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek, dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna dapat adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada objek tertentu.

Semiotik deskriptif, yakni semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun ada tanda sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang.

Semiotik Faunal (zoosemiotic), yakni semiotik yang khusus mempertahatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Hewan biasanya menghasilkan tanda untuk berkomunikais antara sesamanya, tetapi juga sering menghasilkan tanda yang dapat ditafsirkan oleh manusi.

Semiotik Kultural, yakni semiotik yang khusunya menelaah sistem tanda yang ebrlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu. Telah diketahui bahwa masyrakat sebagai makhluk sosial memiliki sistem budaya tertentu yang telah turun menurun dipertahankan dan dihormati. Budaya yang terdapat dalam masyarakat yang juga merupakan sistem itu, menggunakan tanda-tanda tertentu yang membedakannya dengan masyarakat yang lainnya.

Semiotik naratif, yakni semiotik yang menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan (folklore). Telah diketahui bahwa mitos dan cerita lisan, ada diantaranya memiliki nilai kultural yang tinggi. Itu sebabnya.

Greimas (1987) memulai pembahasannya tentang nilai-nilai kultural ketika ia membahas persoalan semiotik naratif.
Semiotik Natural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Air sungai keruh menandakan di hulu telh terjadi hujan, dan daun phon-pohon yang menguning lalu gugur.

Semiotik normatif, yakni semiotik yang khusu menelaah sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang terwujud norma,-norma, misalnya rambu-rambu lalulintas.

Semiotik sosial, semiotik yang khusus enelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lmbang, baik lambang berwujud kata maupun lambang berwujud kata dalam satuan yang disebut kalimat. Buku Halliday (1978) itu sendiri berwujud Language Social Semiotik. Dengan kata lain, semiotik sosial menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa.

Semiotik Struktural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.




Itulah sekilas tentang Semiotika, untuk kalian yang lagi mau melakukan penelitian atau mahasiswa komunikasi akhir yang bingung mau neliti apaan dan pake metode apaan, nah ini bisa jadi rekomendasi untuk kalian. Analisis semiotika cocok untuk kalian yang males cari-cari informan atau wawancarai orang  karena dengan analisis semiotika kalian bisa meneliti penelitian kalian cukup didalam kamar. Hhheee tapi jangan dipikir semiotika juga mudah, kalian yang belum paham sama semitoika pasti akan kebingungan sendiri kalau belum dipelajari dengan baik.

Baiklah terimakasih udah mampir keblog aku, semoga artikel ini bermanfaat yaa.. 

Owh yaa kalau kalian mau tau lebih dalam mengenai semiotika bisa baca bukunya.

Indiwanto Seto Wahyu Wibowo, Semiotika Komunikasi, Mitra Wacana Media, Jakarta,2011
Alex Sobur, analisis Teks  Media, Rosda, Bandung, 2012
Alex Sobur,Semiotik komunikasi,Rosda,Bandung,2004
John Fiske, Pengantar Ilmu Komunikasi,Raja Grando Persada,Jakarta,2002

see u....... ^,^"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar