Beberapa
kali nemuin analisis semiotika ini dibeberapa penelitian skripsi maupun tesis
dan sering dibahas di beberapa matakuliah waktu S1 maupun S2. Menarik, sangat
menarik semiotika adalah ilmu tentang tanda. Pernah kah kalian sadari kalau
kita hidup dipenuhi dengan simbol, tanda maupun lambang-lambang yang semua itu
mempunyai makna tertentu jika kita menggalinya lebih dalam. bergelut didunia
yang penuh simbol yang mempunyai banyak makna jika ditafsirkan tidak heran
banyak ilmuan maupun peneliti yang menganalisis tanda dan simbol.
Dengan analisis semiotika ini kita
bisa menganalisis sebuah film, video klip, syair dalam lagu, iklan, kemasan,
program, sinetron dan masih banyak lainya yang bisa kita teliti dengan analisis
semiotika ini guys. Disini aku mau berbagi ilmu tentang analisis semiotika, apa
sih sebenarnya semiotika itu ????.....
Secara etimologis, istilah
semiotik berasal dari kata yunani semeion
yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas
dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya , dapat dianggap mewakili
sesuatu yang lain. Secara terminologis, semiotika dapat didefinisikan sebagai
ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh
kebudayaan sebagai tanda.
Semiotik
sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial, memahami dunia sebagai suatu
sistem hubungan yang memiliki unit dasar dengan ‘tanda’. Maka dari itu,
semiotik memepelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda. Ahli semiotik,
Umberto Eco menyebut tanda sebagai suatu kebohongan dan dalam tanda ada sesuatu
yang tersembunyi dibaliknya dan bukan merupakan tanda itu sendiri.
Semiotik
adalah ilmu tentang tanda-tanda. Studi tentang tanda dan segala yang
berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungan denga tanda-tanda lain,
pengirimannya oleh mereka yang menggunakannya.
Tanda-tanda
(sign) adalah basis atau dasar dari seluruh komunikasi kata pakar Komunikasi
Littlejohn yan terkenal dengan bukunya:”Theories on Human Behaviour”(1996).
Menurtu Littlejohn, manusia dengan perantara tanda-tanda dapat melakukan
komunikasi dengan sesamanya dan banyak hal yang bisa dikomunikasikan didunia
ini. Menurut Umberto Eco ahli semiotik yang lain, kajian semiotik sampai
sekarang membedakan dua jenis semiotik yakni semiotik komunikasi dan semiotik
signifikan. Semiotik komunikasi menekannkan pada teori tentang produksi tanda
yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya eman faktor dalam komunikasi
yaitu, pengirim, penerima kode atau sistem tanda, pesan, saluran komunikasi dan
acuan yang dibicarakan. Sementara, semiotik signifikan tidak mempersoalkan
adanya tujuan berkomunikasi. Pada jenis yang kedua, yang lebih diutamakan
adalah segi pemahaman suatu tanda sehingga proses kognisinya pada penerima
tanda lebih diperhatikan ketimbang prosesnya.
Fokus utama semiotik adalah teks. Model proses linier memberi perhatian
kepada teks tidak lebih seperti tahapan-tahpan yang lain di dalam proes
komunikasi: memang beberapa diantara model-model tersebut melewatinya begitu
saja, hampir tanpa komentar apapun. Hal tersebut adalah salah satu perbedaan
mendasar dari pendekatan proses dan pendekatan semiotik. Didalam semiotik,
penerima, pembaca, dipandang memiliki peranan yang lebih aktif dibandingkan
sebagian besar model proses (model gerbner adalah sebuah pengecualian).
Semiotik lebih memilih istilah ‘pembaca’(reader)’(juga berlaku pada foto dan
lukisan) dibandingkan ‘penerima(receiver)’ karena istilah tersebut menunjukan
derajat aktivitas yang lebih besar dan juga membaca adalah suatu yang kita
pelajari untuk melakukanhya; jadi hal tersebut ditentukan oleh pengalaman
budaya pembaca. Pembaca membantu untuk menciptakan makna dari teks dengan
membawa pengalaman, sikap, dan emosi yang dimiliki kedalam makna. Semiotik menurut Charles
Morris, memiliki tiga cabang , yakni sintaktika ‘studi relasi formal
tanda-tanda’, semantika ‘studi relasi dengan penafsirannya’, dan pragmatika
‘cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggabungan satuan-satuan kebahasaan.
Saussure
dianggap mengabaikan mengabaikan subjek sebagai agen perubahan sistem bahasa,
Peirce, sebaliknya, melihat subjek sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari proses signifikasi.
Semua
model-model mengenai makna secara luas memiliki bentuk yang hampir sama.
Masing-masing terfokus pada tiga elemen yang dengan cara tertentu ataupun cara
yang lain, pasti terlibat didalam semua kajian mengenai makna. Elemen-elemen
tersebut adalah : (1) tanda, (2) acuan dari tanda, dan (3) pengguna tanda.
Sebah tanda adalah sesuatu yang bersifat fisik, dapat diterima oleh indera
kita; mengacu pada sesuatu diluar dirinya; dan bergantung pada pengenalan dari
para pengguna bahwa itu adalah tanda. Peirce (dan Ogden dan Richards) memandang
tanda, acuan tanda, dan penggunaan tanda sebagai tiga titik dari sebuah
segitiga. Masih-masih terhubung secara dekat dengan dua yang lian, dan hanya
dapat memahami hanya dapat dapat dipahami didalam kaitan dengan yang lanya.
Saussure mengambil jalur yang sedikit berbeda. Saussure menyatakan bahwa tanda
terdiri dari bentuk fisik ditambah sebuah konsep mental terkait, dan konsep
tersebut merupakan tangkapan dari realitas eksternal. Tanda berhubungan dengan
realitas hanya melalui konsep-konsep dari orang yang menggunakannya.
Sekurang-kurangnya
terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang,
Semiotik
Analitik, yakni semiotik yang menganalisi sistem tanda, Pierce menyatakan
bahwa semiotik berobjekan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek, dan
makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna dapat adalah beban
yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada objek tertentu.
Semiotik
deskriptif, yakni semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita
alami sekarang, meskipun ada tanda sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan
sekarang.
Semiotik
Faunal (zoosemiotic), yakni semiotik yang khusus mempertahatikan sistem
tanda yang dihasilkan oleh hewan. Hewan biasanya menghasilkan tanda untuk
berkomunikais antara sesamanya, tetapi juga sering menghasilkan tanda yang
dapat ditafsirkan oleh manusi.
Semiotik
Kultural, yakni semiotik yang khusunya menelaah sistem tanda yang ebrlaku
dalam kebudayaan masyarakat tertentu. Telah diketahui bahwa masyrakat sebagai
makhluk sosial memiliki sistem budaya tertentu yang telah turun menurun
dipertahankan dan dihormati. Budaya yang terdapat dalam masyarakat yang juga
merupakan sistem itu, menggunakan tanda-tanda tertentu yang membedakannya
dengan masyarakat yang lainnya.
Semiotik naratif, yakni semiotik yang menelaah sistem tanda dalam narasi
yang berwujud mitos dan cerita lisan (folklore). Telah diketahui bahwa mitos
dan cerita lisan, ada diantaranya memiliki nilai kultural yang tinggi. Itu
sebabnya.
Greimas (1987) memulai pembahasannya tentang
nilai-nilai kultural ketika ia membahas persoalan semiotik naratif.
Semiotik
Natural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan
oleh alam. Air sungai keruh menandakan di hulu telh terjadi hujan, dan daun
phon-pohon yang menguning lalu gugur.
Semiotik
normatif, yakni semiotik yang khusu menelaah sistem tanda yang dibuat oleh
manusia yang terwujud norma,-norma, misalnya rambu-rambu lalulintas.
Semiotik
sosial, semiotik yang khusus enelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh
manusia yang berwujud lmbang, baik lambang berwujud kata maupun lambang
berwujud kata dalam satuan yang disebut kalimat. Buku Halliday (1978) itu
sendiri berwujud Language Social Semiotik. Dengan kata lain, semiotik sosial
menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa.
Semiotik
Struktural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang
dimanifestasikan melalui struktur bahasa.
Itulah
sekilas tentang Semiotika, untuk kalian yang lagi mau melakukan penelitian atau
mahasiswa komunikasi akhir yang bingung mau neliti apaan dan pake metode apaan,
nah ini bisa jadi rekomendasi untuk kalian. Analisis semiotika cocok untuk
kalian yang males cari-cari informan atau wawancarai orang karena dengan analisis semiotika kalian bisa
meneliti penelitian kalian cukup didalam kamar. Hhheee tapi jangan dipikir
semiotika juga mudah, kalian yang belum paham sama semitoika pasti akan
kebingungan sendiri kalau belum dipelajari dengan baik.
Baiklah
terimakasih udah mampir keblog aku, semoga artikel ini bermanfaat yaa..
Owh
yaa kalau kalian mau tau lebih dalam mengenai semiotika bisa baca bukunya.
Indiwanto Seto Wahyu Wibowo, Semiotika Komunikasi, Mitra Wacana Media,
Jakarta,2011
Alex Sobur, analisis Teks Media,
Rosda, Bandung, 2012
Alex Sobur,Semiotik komunikasi,Rosda,Bandung,2004
John Fiske, Pengantar Ilmu Komunikasi,Raja Grando Persada,Jakarta,2002
see u....... ^,^"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar