Sabtu, 30 April 2016

teknologi determinis dalam konteks di Indonesia

Manusia yang meyakini bahwa teknologi deterministik memberikan perubahan dalam kebudayaan yang merupakan hasil dari teknologi media baru yang tidak dapat kita hindari. Seperti di Indonesia sendiri, kemunculan tekhnologi media baru membuat perubahan yang cukup signifikan bagi masyrakat Indonesia yang menggunakan teknologi itu. Yang kita tahu bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang konsumtif, penikmat teknologi media baru yang menurut saya sangat besar. Seperti contohnya penggunaan smartphone, para pembuat smartphone sangat gencar menjual berbagai macam tipe smartphone dengaan berbagai merk, katakanlah merk samsung, setiap 6 bulan sekali samsung selalu mengeluarkan tipe handphone yang berbeda, sebetulnya untuk kegunaan hampir sama namun ada beberapa kelebihan yang di miliki oleh handphone keluaran terbaru ini tapi pastinya ada kekurangannya, namun produsen handphone sangat lihai dalam mengiklankan produk tersebut sehinggga masyarakat Indonesia pun membeli dan mengganti handphone mereka dengan handphone yang terbaru walau handpone mereka dalam keadaan masih bagus.


            Biasanya fenomena itupun di pengaruhi oleh lingkungan dimana kita tinggal dan pengaruh rekan-rekan kita untuk memaksa kita membeli handphone baru walau handphone itu hanya digunakan untuk kesenjangan sosial dan pencitraan diri, ini sering kita temukan, kecemburuan sosial dan pergaulan yang menjadikan terciptanya budaya sosial yang seperti ini. Banyak manusia yang hanya membeli handphone bukan karena fungsi nya yang amat banyak tapi hanya untuk pamer dan menunjukan diri nya siapa agar mereka tidak terisolir dari kelompok-kelompok elit.
            Menurut hasil data survei dari Nielsen pada tahun 2014 mengenai tingkat konsumsi media di Indonesia, secara keseluruhan internet mendominasi sebagai media yang dikonsumsi masyarakat. Tercatat bahwa 70% dari pengguna smartphone telah memposisikan facebook seperti rumah sendiri. (Sumber: www.Nielsen.com). Kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan sosial tersebut merevolusi munculnya perkembangan teknologi informasi, terutama dengan kehadiran media sosial. Adanya media sosial pengguna dapat mengakses berbagai macam gambar, video, dan melakukan percakapan dengan menembus batas ruang dan waktu. Sehingga pada akhirnya media sosial memberikan wadah bagi para penggunanya untuk mengumbar segala aktivitas guna memenuhi kebutuhan sosial.
Dengan informasi yang semakin berputar sangat cepat dan sangat mudah pula diakses dengan menggunakan berbagai jenis media, apalagi munculnya media baru yang memberikan dampak perubahan pada aspek dan kebudayaan masyarakat termasuk masyarakat Indonesia, contohnya kehadiran media sosial yang dengan mudah diakses di handphone memberikan pengaruh yang sangat besar, kini dengan kehadiran path dan instagram masyarakat indonesia kecanduan dengan yang namanya selfie dimana selfie ini bisa dilakukan di mana saja yang menurut orang itu menarik dan harus di publikasikan kepada teman-temannya melalui media sosial tersebut agar di beri like atau tanda love, dan yang lebih menariknya lagi budaya berdoa sebelum makan kini mula hilang dan dilupakan oleh masyarakat indonesia yang kekinian hal tersebut karena dampak yang diberikan oleh teknologi media baru yang membuat masyarakat menciptakan budaya sebelum makan, makanan tersebut harus lah di foto dan di upload di media sosial  agar semua teman-temannya bisa melihat apa yang akan dy makan. Mengapa hal demikian bisa terjadi ? semua itu terjadi karena penggunaan media teknologi yang berlebihan dan mereka sekarang ketergantungan dengan teknologi yang ada. Jika kita menanyakan kepada beberapa orang Indonesia “ jika anda diberikan pilihan pada situasi, apakah anda memilih ketinggalan dompet anda atau handphone anda ?” kebanyakan pasti mengatakan “saya lebih baik ketinggalan dompet dibanding harus ketinggalan handphone” pernyataan tersebut membuktikan jelas bahwa orang Indonesia sangatlah ketergantungan dengan tekhnologi.  Teknologi media dapat merubah cara berfikir kita, ketika media berubah, maka cara berfikir kita pun akan berubah, cara mengatur informasi dan hubungan dengan orang lain pun akan berubah.

Dengan itu kita harus lebih bijak dalam menggunakan teknologi agar tidak menjadi manusia yang ketergantungan dengan teknologi media baru yang ada, dan jangan lah mau dikendalikan oleh teknologi, kitalah yang harus mengendalikan teknologi itu, karena pada dasarnya manusia sendiri yang menciptakan teknologi dan mengendalikan teknologi tersebut. Jangan sampai tekhnologi dapat merubah perilaku kita yang dan merusak moral dan budaya yang telah di junjung tinggi oleh nenek moyang kita.  





Tidak ada komentar:

Posting Komentar