kali ini q akan share mengenai teori Jaringan Aktor, artikel iniq ambil dari tugas q yang di kirim ke komunikasi.us, mungkin kalian sering menemukan artikel di komunikasi.us semua artikelnya tentang tugas-tugas yang berkaitan dengan komunikasi, memang situs ini sengaja di buat oleh salah satu dosen Universitas Mercu Buana untuk para mahasiswa yang diajarkannya agar selalu mengirim respon paper materi yang akan di bahas setiap minggu nya. Dosen q ini ingin para mahasiswa nya menjadi anti mainstream, jadi kali ini q akan kasih bojoran anti mainstream dari Teori Jaringan Aktor. jikalau ada yang kurang pas mohon di koreksi ya.. hhe
Apa
yang dimaksud dengan teori jaringan
aktor ? teori jaringan aktor atau
aktor-teori jaringan atau Actor-Network-Theory ( ANT ) di kenalkan
pertama kali dari karya Michel Callon dan Bruno Latour, teori ANT ini lahir
dari sebuah pendekatan dalam bidang ilmu – ilmu sosial dan teori sosial yang
berasal dari studi ilmu yang bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan dan
tekhnologi. Teori ini mengatakan bahwa adanya ketidakpastian antara manusia dan
non manusia. Dalam buku Reassembling The Social, ada lima tahap ketikapastian ,
yaitu yang pertama, sifat kelompok, dimana terdapat banyak cara yang
bertentangan untuk aktor untuk di berikaan identitas, kedua, sifat tindakan,
dimana setiap tindakan berbagai macam agen tampaknya menggusur tujuan aslinya,
ketiga, sifat benda, dimana jenis lembaga yang berpaartisipasi dalam interaksi
tampaknya tetap terbuka lebar, keempat, sifat fakta, link dari ilmu alam dengan
seluruh masyarakat tampaknya menjadi sumber perselisihan terus menerus, kelima,
jenis penelitian yang dilakukan dibawah label dari ilmu sosial, dimana ilmu
sosial dapat dikatakan empiris.
Dalam pemahaman teori jaringan aktor
ini, konsep jaringan tidak hanya berfokus pada hubungan sosial aktor antara
manusia saja melainkan juga mencangkup aktor-aktor non manusia. Aktor disini
dapat difenisikan sebagai sesuatu yang ikut serta beraksi bukan hanya manusia
tapi juga merupakan objek teknis, seorang
aktor adalah apa yang di buat untuk bertindak dengan banyak orang lain, setiap
elemen disekitar ruang itu sendiri membuat unsur-unsur lain yang tergantung
pada dirinya sendiri dan menerjemahkan keinginan mereka kedalam bahasa sendiri,
disini semua aktor memiliki kepentingan, mencoba meyakinkan pelaku lain sehinga
menciptakan keselarasan kepentingan aktor-aktor lain dengan kepentingan mereka
sendiri, ketika proses persuasif ini menjadi efektif, itu menghasilkan
penciptaan aktor jaringan.
Dengan kata lain, aktor bersifat
sebagai sekutu yang memberikan kekuatan untuk sebuah posisi, dalam sebuah aktor
ada yang memiliki kekuatan atau power dan ada juga yang tidak memiliki kekuatan
dalam mengendalikan suatu sistem jaringan. Dalam teori jaringan aktor terdapat
aktor dan sebuah jaringan, aktor adalah bagian-bagian yang terhubung kedalam
sistem yang nantinya akan membentuk dan menciptakan sebuah jaringan, aktor yang
memiliki kemampuan mempersuasi dan mengontrol aktor lain disebut dengan aktan,
aktan ini mempunyai kemampuan bergerak keluar masuk
secara bebas dalam suatu jaringan sesuai dengan keinginan dan kepentingannya.pada
saat aktan memasuki suatu jaringan ia akan melakukan interaksi dan aktiftas
seperti menarik perhatian serta mengambil tindakan peranan di jaringan tersebut
dan menjadi penguasa dalam menggerakan suatu jaringan tersebut.
Jaringan aktor ini mengekplorasi
bagaimana hubungan antara objek, orang dan konsep terbentuk, dari pada mengapa
mereka terbentuk, jaringan aktor juga merupakan jaringan yang heterogen atau
beragam untuk kepentingan yang selaras. Ada tiga komponen teori jaringan aktor
yaitu jaringan heterogen, dimana pengetahuan muncul dari jaringan bahan
heterogen, pengetahuan mengambl banyak bentuk dan pengetahuan adalah produk
dari sosial, bukan hasil dari metode ilmiah, konsolidasi jaringan, dimana
jaringan dapat menjadi sangat kompleks sehingga menjadi benar – benar menyadari
bahwa semua jaringan disekitar kita menjadi tidak layak, manusia
mengkonsolidasi jaringan untuk menyederhanakan dunia disekitar mereka,
pemesanan jaringan dimana efek order, kekuasaan dan organisasi sering kali
datang dari aktor punctualize, dalam aktor dan organisasi ANT menganggap
bagaimana komponen dimobilisasi dan dikelola, bagaiman punctualization dan
translation terjadi tanpa di sadari.
ANT memiliki asal usul dalam studi
tentang jaringan yang saling bergantung pada praktek-praktek sosial yang
membentuk pekerja dalam sains dan teknologi, Latour mengatakan bahwa ANT
sebagai sebuah bahan metode semiotik, ia mengakui bahwa aktor semiotik baik
manusia maupun non manusia sama-sama aktan dalam artian narasi semiotik bahwa
mereka ditentukan oleh bagaimana mereka
bertindak di dalam jaringan praktek. ANT mencatat bahwa topologi jaringan pada
umumnya non lokal dan lebih jauh bahwa artefak semiotik sering kali merupakan
batas benda-benda yang memediasi non lokal, skala melanggar intekoneksi. Ini
menyebabkan generalisasi yang kuat dari teori sistem ecosocial untuk memasukan
topologi jaringan. Latour, dalam pendekatan jaringan aktor ini telah mengembangkan
serangkaian konsep – konsep dalam rangka untuk menggambarkan pembangunan dan
pengoperasian ilmu teknologi, konsep berharga mereka meliputi, rezim delegasi,
sentralisasi mediasi dan posisi bahwa alam dan masyarakat bukan penyebab tapi
akibat dari karya ilmiah dan teknis.
Teori jaringan aktor ( ANT )
mnggambarkan antara manusia dan obyek teknologi didalamnya berlangsung
setidaknya dua proses yaitu proses translasi dan kontruksi, namun disisi lain
adanya pembelajaran yang melewati pembuatan dan penggunaan. Yaitu melalui
proses kontruksi dan desain, obyek teknologi termasuk manusia yang ada di
dalamnya. Melalui proses pembelajaran tersebut nilai-nilai dan peraturan –
peraturan manusia diterapkan pada arah teknologi. Teknologi dikelola sehingga
tidak menghancurkan hubungan sosial yang otoriter maupun hirarkis, teknologi
juga menjadi selaras dengan prinsip – prinsip kesetaraan dan keadilan sosial
yang sudah di bentuk oleh manusia.
Membicarakan mengenai jaringan aktor
dalam teknologi media baru, banyak contoh yang bisa diambil, apa lagi sekaran
zaman semakin berkembang dan tekhnologi semakin canggih, sekarang ini kita
hidup dalam era digital, dimana semua teknologi berbasis digital , perpaduan
antara manusia dan non manusia ( teknologi )
menghasilkan sebuah jaringan. contoh terciptanya ujian nasional berbasis
komputer, dulu saat menjelang ujian nasional kita memerlukan dan mencari pensil
2b yang asli untuk mengisi soal ujian nasional, karena kalau tidak asli jawaban
yang ada di lembar jawaban tidak terbaca oleh komputer, dengan adanya ujian
nasional berbasis komputer ini siswa siswi tidak perlu repot-repot menyiapkan
alat tulis. Basis komputer ini juga menghemat biaya bagi pemerintah, pemerintah
tidak usah menghambur hamburkan kertas untuk menulis soal ujian dan lembar
jawaban ujian. Contoh lain kehadiran
handphone dan internet dan munculnya berbagai aplikasi di dalam handphone memudahkan
kita dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi, sekarang ini hampir semua
dilakukan melalui online, misalkan kehadiran aplikasi gojek atau gribe bike
yang memudahkan kita dalam pemesanan ojek dan secara cepat pula. Kemunculan
ojek online ini memberikan pekerjaan kepada para pengangguran, namun disisi
lain awal mulanya ojek berbasis online ini tidak diterima dikalangan masyarakat
terutama para ojek pangkalan, namun mereka mau tidak mau harus menerima
kemajuan zaman yang sekarang berbasis digital. Yang belum lama terjadi adanya
demo yang dilakukan masyarakat yang bekerja menjadi supir taxi, mereka menginginkan
penghapusan aplikasi taxi plat hitam yang berbasis online, demo ini menibulkan
kericuhan dikalangan masyarakat yang dikarenakan taxi plat hitam ini melanggar
aturan. Fonemena ini bisa kita ambil sebagai pembelajaran, bahwa pemerintah
harus memberikan regulasi – regulasi terhadap kemajuan teknologi yang semakin
berkembang agar tidak ada yang dirugikan dalam hal ini, sehingga teknologi baru
dapat di terima dikalangan masyarakat tanpa merusak tatanan sosial
dimasyarakat.
Jadi anti mainstream dalam materi jaringan
aktro ini adalah dengan kata kunci “ketidak pastian” perbanyaklah jaringan
dengan sesama manusia agar kita tidak selalu ketergaantungan dengan tekhnologi.
Jika kita mempunyai banyak jaringan dan saling mengenal satu sama lain, kita
tidak perlu lagi tergantung dan tidak perlu lagi mencari kepastian melalui
tekhnology.
Sebagai contoh, seorang dosen yang
menggunakan absen kelas dengan tekhnologi digital dan harus menyebutkan nama
mahasiswa nya agar dy mempunyai kepastian bahwa mahasiswa yang di sebutkan tadi
hadir didalam kelas. Namun jikalau si
dosen tahu dan mengingat semua nama mahasiswa nya maka ia tidak akan mencari
kepastian lewat absen digital tersebut, karena hanya dengan melihat muka mahasiswa
nya dosen tersebut tidak perlu khawatir dengan masalah ketidakpastian tersebut.
Referensi :
Latour, Bruno. 2005. Reassembling
the Social. New York: Oxford University Press
Hai yessi, maaf mau minta tolong dengan sangat nih.
BalasHapuspunya buku Bruno Latour ini tidak?
Jika punya boleh aku foto copy, karena skripsi aku mengenai teori ini, aku butuh banget buku nya.
please...
Jika tidak keberatan,
aku tunggu kabar nya di no 08111444484 andre
Aku mohon dengan sangat untuk bantuan nya, terima kasih