Minggu, 01 Mei 2016

JARINGAN AKTOR DALAM TEKNOLOGI MEDIA BARU

kali ini q akan share mengenai teori Jaringan Aktor, artikel iniq ambil dari tugas q yang di kirim ke komunikasi.us, mungkin kalian sering menemukan artikel di komunikasi.us semua artikelnya tentang tugas-tugas yang berkaitan dengan komunikasi, memang situs ini sengaja di buat oleh salah satu dosen Universitas Mercu Buana untuk para mahasiswa yang diajarkannya agar selalu mengirim respon paper materi yang akan di bahas setiap minggu nya.  Dosen q ini ingin para mahasiswa nya menjadi anti mainstream, jadi kali ini q akan kasih bojoran anti mainstream dari Teori Jaringan Aktor. jikalau ada yang kurang pas mohon di koreksi ya.. hhe 

 Apa yang  dimaksud dengan teori jaringan aktor ? teori jaringan aktor  atau aktor-teori jaringan  atau  Actor-Network-Theory ( ANT ) di kenalkan pertama kali dari karya Michel Callon dan Bruno Latour, teori ANT ini lahir dari sebuah pendekatan dalam bidang ilmu – ilmu sosial dan teori sosial yang berasal dari studi ilmu yang bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Teori ini mengatakan bahwa adanya ketidakpastian antara manusia dan non manusia. Dalam buku Reassembling The Social, ada lima tahap ketikapastian , yaitu yang pertama, sifat kelompok, dimana terdapat banyak cara yang bertentangan untuk aktor untuk di berikaan identitas, kedua, sifat tindakan, dimana setiap tindakan berbagai macam agen tampaknya menggusur tujuan aslinya, ketiga, sifat benda, dimana jenis lembaga yang berpaartisipasi dalam interaksi tampaknya tetap terbuka lebar, keempat, sifat fakta, link dari ilmu alam dengan seluruh masyarakat tampaknya menjadi sumber perselisihan terus menerus, kelima, jenis penelitian yang dilakukan dibawah label dari ilmu sosial, dimana ilmu sosial dapat dikatakan empiris.


            Dalam pemahaman teori jaringan aktor ini, konsep jaringan tidak hanya berfokus pada hubungan sosial aktor antara manusia saja melainkan juga mencangkup aktor-aktor non manusia. Aktor disini dapat difenisikan sebagai sesuatu yang ikut serta beraksi bukan hanya manusia tapi juga merupakan objek teknis,  seorang aktor adalah apa yang di buat untuk bertindak dengan banyak orang lain, setiap elemen disekitar ruang itu sendiri membuat unsur-unsur lain yang tergantung pada dirinya sendiri dan menerjemahkan keinginan mereka kedalam bahasa sendiri, disini semua aktor memiliki kepentingan, mencoba meyakinkan pelaku lain sehinga menciptakan keselarasan kepentingan aktor-aktor lain dengan kepentingan mereka sendiri, ketika proses persuasif ini menjadi efektif, itu menghasilkan penciptaan aktor jaringan.  
            Dengan kata lain, aktor bersifat sebagai sekutu yang memberikan kekuatan untuk sebuah posisi, dalam sebuah aktor ada yang memiliki kekuatan atau power dan ada juga yang tidak memiliki kekuatan dalam mengendalikan suatu sistem jaringan. Dalam teori jaringan aktor terdapat aktor dan sebuah jaringan, aktor adalah bagian-bagian yang terhubung kedalam sistem yang nantinya akan membentuk dan menciptakan sebuah jaringan, aktor yang memiliki kemampuan mempersuasi dan mengontrol aktor lain disebut dengan aktan, aktan  ini  mempunyai kemampuan bergerak keluar masuk secara bebas dalam suatu jaringan sesuai dengan keinginan dan kepentingannya.pada saat aktan memasuki suatu jaringan ia akan melakukan interaksi dan aktiftas seperti menarik perhatian serta mengambil tindakan peranan di jaringan tersebut dan menjadi penguasa dalam menggerakan suatu jaringan tersebut.
            Jaringan aktor ini mengekplorasi bagaimana hubungan antara objek, orang dan konsep terbentuk, dari pada mengapa mereka terbentuk, jaringan aktor juga merupakan jaringan yang heterogen atau beragam untuk kepentingan yang selaras. Ada tiga komponen teori jaringan aktor yaitu jaringan heterogen, dimana pengetahuan muncul dari jaringan bahan heterogen, pengetahuan mengambl banyak bentuk dan pengetahuan adalah produk dari sosial, bukan hasil dari metode ilmiah, konsolidasi jaringan, dimana jaringan dapat menjadi sangat kompleks sehingga menjadi benar – benar menyadari bahwa semua jaringan disekitar kita menjadi tidak layak, manusia mengkonsolidasi jaringan untuk menyederhanakan dunia disekitar mereka, pemesanan jaringan dimana efek order, kekuasaan dan organisasi sering kali datang dari aktor punctualize, dalam aktor dan organisasi ANT menganggap bagaimana komponen dimobilisasi dan dikelola, bagaiman punctualization dan translation terjadi tanpa di sadari.
            ANT memiliki asal usul dalam studi tentang jaringan yang saling bergantung pada praktek-praktek sosial yang membentuk pekerja dalam sains dan teknologi, Latour mengatakan bahwa ANT sebagai sebuah bahan metode semiotik, ia mengakui bahwa aktor semiotik baik manusia maupun non manusia sama-sama aktan dalam artian narasi semiotik bahwa mereka ditentukan oleh bagaimana  mereka bertindak di dalam jaringan praktek. ANT mencatat bahwa topologi jaringan pada umumnya non lokal dan lebih jauh bahwa artefak semiotik sering kali merupakan batas benda-benda yang memediasi non lokal, skala melanggar intekoneksi. Ini menyebabkan generalisasi yang kuat dari teori sistem ecosocial untuk memasukan topologi jaringan. Latour, dalam pendekatan jaringan aktor ini telah mengembangkan serangkaian konsep – konsep dalam rangka untuk menggambarkan pembangunan dan pengoperasian ilmu teknologi, konsep berharga mereka meliputi, rezim delegasi, sentralisasi mediasi dan posisi bahwa alam dan masyarakat bukan penyebab tapi akibat dari karya ilmiah dan teknis.
            Teori jaringan aktor ( ANT ) mnggambarkan antara manusia dan obyek teknologi didalamnya berlangsung setidaknya dua proses yaitu proses translasi dan kontruksi, namun disisi lain adanya pembelajaran yang melewati pembuatan dan penggunaan. Yaitu melalui proses kontruksi dan desain, obyek teknologi termasuk manusia yang ada di dalamnya. Melalui proses pembelajaran tersebut nilai-nilai dan peraturan – peraturan manusia diterapkan pada arah teknologi. Teknologi dikelola sehingga tidak menghancurkan hubungan sosial yang otoriter maupun hirarkis, teknologi juga menjadi selaras dengan prinsip – prinsip kesetaraan dan keadilan sosial yang sudah di bentuk oleh manusia.
            Membicarakan mengenai jaringan aktor dalam teknologi media baru, banyak contoh yang bisa diambil, apa lagi sekaran zaman semakin berkembang dan tekhnologi semakin canggih, sekarang ini kita hidup dalam era digital, dimana semua teknologi berbasis digital , perpaduan antara manusia dan non manusia ( teknologi )  menghasilkan sebuah jaringan. contoh terciptanya ujian nasional berbasis komputer, dulu saat menjelang ujian nasional kita memerlukan dan mencari pensil 2b yang asli untuk mengisi soal ujian nasional, karena kalau tidak asli jawaban yang ada di lembar jawaban tidak terbaca oleh komputer, dengan adanya ujian nasional berbasis komputer ini siswa siswi tidak perlu repot-repot menyiapkan alat tulis. Basis komputer ini juga menghemat biaya bagi pemerintah, pemerintah tidak usah menghambur hamburkan kertas untuk menulis soal ujian dan lembar jawaban ujian.  Contoh lain kehadiran handphone dan internet dan munculnya berbagai aplikasi di dalam handphone memudahkan kita dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi, sekarang ini hampir semua dilakukan melalui online, misalkan kehadiran aplikasi gojek atau gribe bike yang memudahkan kita dalam pemesanan ojek dan secara cepat pula. Kemunculan ojek online ini memberikan pekerjaan kepada para pengangguran, namun disisi lain awal mulanya ojek berbasis online ini tidak diterima dikalangan masyarakat terutama para ojek pangkalan, namun mereka mau tidak mau harus menerima kemajuan zaman yang sekarang berbasis digital. Yang belum lama terjadi adanya demo yang dilakukan masyarakat yang bekerja menjadi supir taxi, mereka menginginkan penghapusan aplikasi taxi plat hitam yang berbasis online, demo ini menibulkan kericuhan dikalangan masyarakat yang dikarenakan taxi plat hitam ini melanggar aturan. Fonemena ini bisa kita ambil sebagai pembelajaran, bahwa pemerintah harus memberikan regulasi – regulasi terhadap kemajuan teknologi yang semakin berkembang agar tidak ada yang dirugikan dalam hal ini, sehingga teknologi baru dapat di terima dikalangan masyarakat tanpa merusak tatanan sosial dimasyarakat.



Jadi anti mainstream dalam materi jaringan aktro ini adalah dengan kata kunci “ketidak pastian” perbanyaklah jaringan dengan sesama manusia agar kita tidak selalu ketergaantungan dengan tekhnologi. Jika kita mempunyai banyak jaringan dan saling mengenal satu sama lain, kita tidak perlu lagi tergantung dan tidak perlu lagi mencari kepastian melalui tekhnology.
Sebagai contoh, seorang dosen yang menggunakan absen kelas dengan tekhnologi digital dan harus menyebutkan nama mahasiswa nya agar dy mempunyai kepastian bahwa mahasiswa yang di sebutkan tadi hadir didalam kelas.  Namun jikalau si dosen tahu dan mengingat  semua nama  mahasiswa nya maka ia tidak akan mencari kepastian lewat absen digital tersebut, karena hanya dengan melihat muka mahasiswa nya dosen tersebut tidak perlu khawatir dengan masalah ketidakpastian tersebut.  



Referensi :
Latour, Bruno. 2005. Reassembling the Social. New York: Oxford University Press

1 komentar:

  1. Hai yessi, maaf mau minta tolong dengan sangat nih.
    punya buku Bruno Latour ini tidak?
    Jika punya boleh aku foto copy, karena skripsi aku mengenai teori ini, aku butuh banget buku nya.
    please...

    Jika tidak keberatan,
    aku tunggu kabar nya di no 08111444484 andre

    Aku mohon dengan sangat untuk bantuan nya, terima kasih

    BalasHapus