Senin, 09 Mei 2016

“Pembuatan meme di media sosial”

Kali ini q buat analisis kecil yaitu menganalisis salah satu meme yang dulu sempat jadi konflik antara OB dan aparat kepolisian, analisis ini juga sebagai tugas mata kuliah q di mata kuliah Perspektif teori komunikasi. Semoga bermanfaat bagi para pembaca ^,^

“Pembuatan meme di media sosial”

BAB I
PENDAHULUAN

    A.     LATAR BELAKANG

Semakin berkembangnya zaman dan tekhnologi yang semakin maju membuat manusia yang hidup pada saat ini menjadi lebih kreatif, ditambah dengan adanya keberadaan internet dan media massa yang semakin berkembang khususnya media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram dan masih banyak lagi aplikasi media sosial yang dapat di download di gadget yang berbasis Android, Ios dan Windows.
Hampir semua orang mempunyai gadget, dari umur 7 tahun pun sudah mengerti cara memainkan gedget. Di ketahui dari laporan bulan maret 2015 mengenai data jumlah pengguna Website, Gadget dan Media Sosial adalah 72,7 juta pengguna aktif internet, 74 juta pengguna aktif media sosial, dimana 64 juta penggunanya mengakses media sosial menggunakan perangkat mobile atau gadget dan 308,2 juta pengguna handphone. Dari laporan tersebut, Facebook masih menjadi media sosial yang paling banyak digunakan.
Karena begitu mudah dan longgarnya akses pemanfaatan media internet, maka sudah tidak asing lagi jika dilingkungan sekitar kita terdapat orang-orang yang menghabiskan hari-harinya di depan komputer untuk sekedar memainkan peran di  media maya (New Media) seperti media sosial, berkicau di facebook, menyebarkan tautan berita,  curahan hati, Video, bahkan membuat meme yang dapat membawa malapetaka. Tidak semua pengguna internet menyadari bahwa apa yang diunggahnya adalah juga sekaligus dapat disaksikan oleh para pengguna di seluruh dunia. Unggahan tersebut dapat direplikasikan secara massal oleh orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya untuk kemudian tersebar secara liar.


Kebiasaan menyebarkan pesan kiriman informasi dan verifikasi dijejaring media sosial menjadi  celah bagi kelompok-kelompok tertentu untuk menebar teror, hujatan kebencian atau hanya sekedar lulucon. dengan keberadaan jejaring media sosial, sudah dikatakan diatas bahwa manusia menjadi lebih kreatif, sebagai contoh mengedit gambar dengan sedemikian rupa memberikan efek dan tulisan-tulisan yang mungkin menyindir atau hanya mengkritik sebuah isu atau fenomena yang sedang hangat di realitas sosial gambar tersebut sering disebut dengan meme, lalu meme yang sudah dibuat di unggah di media sosial yang banyak mengundang perhatian pengguna media sosial  lainnya, bahkan mengomentari unggahan tersebut dengan berbagai komentar. memanfaatkan media sosial tersebut menjadikan salah satu proses komunikasi.
Sekarang sudah menjadi kebiasaan para pengguna media sosial untuk membuat meme dari setiap kejadian yang menarik di media massa, dengan keberadaan internet dan media sosial, ada semacam kegatalan dari para pengguna media sosial untuk selalu menyebarkan apa yang sedang dirasakan dan hangat di realitas sosial. Contohnya merasa kesal dengan polisi lalu lintas yang sering menilang para pengguna sepeda motor dan ingin orang lain pun ikut kesal dengan kejadian tersebut. Penyebaran tersebut tidak dilakukan secara apa adanya, melainkan mengubahnya menjadi meme agar pengguna media sosial lain dapat melihatnya menjadi lelucon atau parodi.
Puluhan bahkan ratusan foto meme berserakan di media sosial terutama facebook, dengan satu akun nama pengguna facebook dapat membuat satu group dimana dapat diikuti ribuan pengikut didalam group tersebut, meme yang diunggah ke dalam group menjadi  perbincangan dan menjadi sebuah ajang hiburan tanpa memperdulikan dampak yang terjadi akibat pembuatan meme tersebut.
Tidak sedikit dari pembuatan meme tersebut menimbulkan konflik sosial di masyarakat karena kebanyakan pembuatan meme mengandung kritikan-kritikan yang berupa ledekan atau lulucon yang ditujukan kepada seseorang, sehingga seseorang yang merasa di buat lulucon menjadikan sebuah konflik perkara yang berujung pada hukum.
Meskipun yang kita tahu negara kita indonesia mempunyai Undang-Undang dasar yang mengatur tentang IT, tapi  hukum tersebut tidak memberikan rasa takut kepada pengguna sosial media yang menyalahgunakan penggunaan sosial media, bahkan sekarang ini telah dikeluarkan nya surat edaran yang dikeluarkan oleh Kapolri mengenai ujaran kebencian atau Hate Speech agar pengguna sosial media berhati-hati dalam menulis isi di media sosial.

 B.     URAIAN KASUS
Kasus yang belum lama beredar di media Televisi dan media Online tentang seorang Office Boy Bank Swasta di Penorogo, Jawa Timur yang bernama Imleda Syahrul di tahan kepolisian Resor Ponorogo pada tangga 11 November 2015 karena telah mengunggah sebuah meme di salah satu media sosial group Facebook.
Meme tersebut melihatkan seorang polisi lalu lintas Ponorogo yang bernama Bripda Aris Kurniawan yang tengah memegang radio seluler (Handie Talki) dengan menambah unsur parodi balon percakapan yang menggambarkan komunikasi antara polisi dan istrinya seputar uang hasil tilang.
Kemudian meme yang di unggah tersebut diketahui oleh anggota polantas polres ponorogo dan Bripda Aris, mereka merasa direndahkan martabatnya dalam meme yang dibuat dan di publikasikan oleh Imelda. Karena Bripda Aris tidak terima dengan perbuatan yang dilakukan Imelda ia pun melaporkan Imelda kepolisian Resor Ponorogo untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Imelda di tahan diduga telah melanggar ketentuan pasal 32 ayat 1 UU no 11/2008 tentang Informasi Transaksi elektronik (ITE), yang berbunyi “setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apapun mengubah,menambah,mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik orang lain atau publik”. Imelda juga di jerat dengan Undang-Undag Nomor 11 tahun 2008 tentang Infomasi dan Teknologi dengan ancaman penjara maksimal 8 tahun.
Berbagai tanggapan muncul menaggapi konflik yang terjadi antara office boy dan polisi tersebut, salah satunya kapolri Jendral Badrodin Haiti yang telah mengeluarkan Surat Edaran kebencian untuk masyarakat, ia mengatakan agar dilakukannya mediasi antara korban dan pelaku seperti yang tertera dalam surat edaran kapolri tentang Ujaran Kebencian, perlu dilakukan mediasi sebelum menempuh jalur hukum, ia juga menegaskan agar kasus tersebut di selsaikan sesuai dengan tata cara pada SE Ujaran Kebencian.
Pada akhirnya, dilakukan mediasi antara imelda dan bripda Aris. konflik pun tersebut dapat diselsaikan dengan baik, imelda yang telah ditetapkan sebagai tersangka kini sudah di bebaskan karena Bripda Aris telah memaafkan Imelda, ia pun mengaku kasihan dengan Imelda sehingga mencabut laporannya.

    C.     RUMUSAN MASALAH

1.      Dikarenakan teknologi yang semakin berkembang pesat dan muncul nya New Media, merubah cara berkomunikasi masyarakat yang dahulu hanya bisa dilakukan melalui tatap muka atau secara langsung dan tidak langsung atau melalu perantara surat, tapi sekarang komunikasi bisa dilakukan melalui media sosial dengan secara serentak semua orang dapat melihat isi pesan tersebut seperti di group facebook. Tidak sedikit pengguna facebook yang membuat group di facebook. Disini kita akan akan membahas bagaimana proses komunikasi yang dilakukan di jejaring media sosial khusus nya group facebook.
2.      Tidak sedikit pengguna media sosial khususnya facebook hanya sekedar iseng mengunggah pesan atau informasi yang berbentuk foto maupun video yang sudah diedit, kita akan membahas masalah penyebaran informasi atau pesan melalui meme di media sosial khususnya facebook yang menimbulakan konflik.
 BAB II
PEMBAHASAN

       A.     PROSES KOMUNIKASI MELALUI GROUP FACEBOOK
Facebook adalah suatu situs jejaring sosial yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk menjalin hubungan pertemanan yang seluruh orang yang ada dibelahan dunia untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Facebook merupakan situs pertemanan yang dapat digunakan oleh manusia untuk bertukar informasi, berbagi foto, video, dan lainnya (Madcoms, 2010:1).
Ciri-ciri dari sebuah akun facebook, yaitu memiliki pages dan group, dapat melakukan update status lebih dari 140 karakter sesuai dengan kebutuhan. Bisa langsung memberikan komentar atau memberikan apresiasi dari updates status orang-orang yang sudah update status orang-orang yang sudah menjadi teman di facebook, memiliki fasilitas chating yang memungkinkan pemilik facebook untuk dapat melakukan chat secara langsung dengan orang-orang yang sudah berteman di facebook, dapat berbagi foto dengan cara tagging, dapat membuat album foto yang berisikan nama album, lokasi tempat pengambilan foto dan jika diperlukan dapat berisikan penjelasan singkat mengenai foto tersebut, dapat membuat album video yang berdurasi 2 menit dan berukuran kurang dari 100 MB (Madcoms, 2010:20-60).
Proses komunikasi yang di lakukan dijejaring media sosial khusunya di facebook telah membawa perubahan dalam proses komunikasi manusia. Proses komunikasi yang selama ini dilakukan hanya melalui komunikasi tatap muka, komunikasi kelompok, komunikasi massa, kini berubah total dengan adanya tekhnologi internet. Media sosial telah mengubah proses pengiriman pesan.
Komunikasi menggunakan jejaring media sosial facebook di jadikan sarana pengganti proses komunikasi secara tatap muka. Fenomena komunikasi melalui internet sekarang ini bagi sebagian orang tampaknya lebih menarik dari pada berkomunikasi secara langsung tatap muka. Gelaja ini yang oleh Walther (1996) disebut sebagai komunikasi dengan perantara internet yang secara sosial lebih menarik dari pada komunikasi langsung. Komunikasi hiperpersonal, yakni komunikasi dengan perantara internet yang secara sosial lebih menarik daripada komunikasi langsung Komunikasi hipersonal pun disinyalir akan mampu menciptakan keakraban, bahkan ke intiman diantara partisipannya. Hanya aja keintiiman yang terjalin belum tentu bersesuaian antara yang terjadi dalam realitas dunia maya (hiperrealitas) dengan realitas yang sesungguhnya.
Group yang dibuat di facebook dapat diikuti oleh beribu-ribu orang yang mempunyai akun facebook, group facebook ini dapat dikatakan sebagai salah satu forum yang memang dibuat dan disepakati bersama, biasanya admin yang membuat group facebook dapat memilih siapa saja yang akan menjadi anggota dari group facebook tersebut dengan cara mengirim undangan atau permintaan group facebook yang dikirim kan kepada akun facebook milik pribadi seseorang, jika orang tersebut menerima undangan group facebook tersebut, mereka dapat dengan leluasa melihat, menerima, mengirimkan pesan, gambar maupun video dan bahkan kita dapat mengomentari layak nya sebagai forum diskusi.
Biasanya group di buat oleh orang-orang yang mempunyai keadaan yang sama, bertempat tinggal di lokasi yang sama, bersekolah di tempat yang sama adapun yang membuat group facebook untuk ajang berwirausaha yang siapa saja bisa jadi anggota group tersebut. Apapun dapat dibuat di group facebook. Dengan adanya group facebook mereka tidak perlu datang secara langsung atau bertatap muka untuk membahas suatu permasalahan, cukup dengan memberi pertanyaan dengan mempostingnya yang kemudian akun-akun lain akan menjawab dengan serentak. Seperti contoh group facebook yang ada di daerah Ponorogo memposting sebuah editan gambar atau foto yang melihatkan  seorang polisi lalu lintas sedang bertugas dengan di tambahkan pesan pada gambar tersebut, belum ada lima menit gambar tersebut di posting sudah banyak komentar-komentar dari penghuni group facebook tersebut.
 Apa yang terjadi pada komunikasi penyebaran pesan di atas tentu membawa konsekuensi perubahan perilaku pada masyarakat. Konsekuensi itu kemudian membentuk sebuah ciri khas yang berbeda dengan kenyataan masyarakat sekarang. Secara fisik, jumlah anggota, kuantitas lalu lintas pesan, jenis-jenis pesan berbeda dengan kenyataan masyarakat saat ini.  Sebut saja ada bentuk masyarakat lain selain masyarakat riil yang dikenal secara konseptual atau kenyataan. Masyarakat itulah yang dinamakan masyarakat virtual (muncul akibat internet ).
Secara definitif, masyarakat nyata adalah sebuah kehidupan masyarkat yang secara indrawi dapat dirasakan sebagai sebuah kehidupan nyata, dimana hubungan antara anggota di bangun melalui pengindraan. Jadi masyarakat nyata adalah masyarkat yang secara nyata bisa di buktikan disekitar manusia, terutama menyangkut ciri-ciri fisik. Ciri fisik yang bisa di buktikan itu misalnya ciri yang melekat pada individu, jumlah anggota dalam masyarakat itu, kegiatan, aturan-aturan,orientasi hidup,tuntutan dan dukungan dan dinamika yang lain. Misalnya, masyarakat jawa, sunda, madura dll. Yang itinya mereka bisa diindra keberadaannya.
Sementara itu ada masyrakat maya (virtual/ cyber comunity) yang secara definitif bisa diartikan sebagai sebuah kehidupan masyarakat manusia yang tidak dapat secara langsung diindra melalui pengindraan manusia, namun dapat dirasakan dan disaksikan sebagai sebuah realitas. Mereka ini memakai seluruh metode kehidupan masyarakat nyata sebagai model yang dikembangkan didalam segi kehidupan maya.
Secara akar komunitas/masyarakat maya bisa ditelusuri dari pendapat William Gibson dalam novelnya berjudul Neuromancer. Ia mengenalkan istilah  Cyberspace atau ruang hampa.
Cyberspace itu sendiri berarti ruang hampa. Ruang hampa yang dimaksud disini bukan ruang sebenarnya atau dunia nyata sebagaimana kita merasakan disekitar kita. Ruang hampa itu ruangan yang di bentuk karena pemakaian komputer. Komputer menciptakan ruang-ruang hampa. Ruang hampa ini terasa bentuknya sejak adanya multimedia dengan perantara internet.
Disebut komunitas ruang hampa karena anggotanya berhadapan dengan ilusi. Anggota tidak berhadapan dengan anggota secara fisik sebagaimana masyarakat nyata.mereka hanya berhadapan dengan layar komputer (misalnya) atau yang sekarang ini orang lebih berhadapan dengan gadget, seolah bicara, tertawa, tersenyum, sedih sendiri. Jika di lihat sekilas seperti orang gila. Tetapi mereka ini sedang berada dalam sebuah ruang imajinasi yang bisa berhubungan satu sama lain jangan heran juga jika komunikasi virtual disebut juga komunitas semu.
Dalam hal ini group facebook di jadikan ruang semu bagi mereka yang menggunakannya, mereka lebih senang berinteraksi lewat group facebook dibandingkan harus bertemu secara langsung, karena belum tentu anggota dari group tersebut mengenal satu sama lain, karena ada juga group di buat hanya untuk sekedar iseng.

             B.     Penyebaran Pesan melalui meme di media sosial yang menimbulkan konflik

Meme di definisikan sebagai “sebuah ide, kebiasaan atau gaya yang menyebar dari orang ke orang dalam suatu budaya”. Istilah meme sendiri pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli biologi asal Britania Raya, Richard Dawkins. Akar katanya berasal dari bahasa Yunani, yakni mimesis, yang berarti tiruan. Dawkins memaknai meme sebagai suatu unit informasi budaya (berupa pemikiran, ide, gagasan, kebiasaan, lagu) yang membentuk pola-pola kebudayaan tertentu. Ada beberapa jenis meme yaitu meme sindiran, percintaan, motivasi, joke dan politik.
Pesan yang berbentuk Meme yang dibuat imelda sorang Ofice Boy yang diunggah di akun facebook miliknya tepatnya di group yang memilki 30 ribu pengikut menimbulkan sebuah konflik sosial di kehidupannya,awalnya ia hanya iseng membuat meme tersebut untuk sebuah lulucon dan hiburan semata tetapi malah menyebabkannya tertimpa masalah dan harus menghadapi konflik yang terjadi.
Menurut Webster (1966), istilah “conflict” didalam bahasa aslinya berarti suatu “perkelahian,peperangan, atau perjuangan” yaitu berupa konfrontasi fisik antara beberapa pihak. Tetapi arti kata itu kemudian berkembang dengan masuknya “ketidaksepakatan yang tajam atau oposisi atas berbagai kepentingan, ide dan lain-lain”. Dengan kata lain istilah tersebut sekarang juga menyentuh aspek psikologis dibalik konfrontasi fisik itu sendiri. Secara singkat, istilah “conflict” menjadi begitu meluas sehingga beresiko kehilangan statusnya sebagai sebuah konsep tunggal. Konflik berarti persepsi mengenai perbedaan kepentingan (percived dipergence of interest), atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan.
Konflik merupakan gejala sosial yang selalu hadir dalam kehidupan sosial, konflik akan senantiasa ada dalam ruang dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Konflik dan integrasi sosial merupakan gejala yang selalu mengisi setiap kehidupan manusia. Hal-hal yang mendorong timbulnya konflik dan integrasi adalah persamaan dan perbedaan kepentingan sosial.
Jika dilihat berdasarkan sifatnya, konflik yang terjadi pada kasus diatas besifat Destruktif yaitu konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelompok terhadap pihak lain.
Bripda Aris menilai pesan yang dikirim atau diunggah kedalam media sosial oleh Imelda sebagai sebuah ejekan dan ledekan sehingga ia merasa  merasa direndahkan martabatnya karena pembuatan meme tersebut sehingga ia pun memperkarakannya ke jalur hukum. Imelda pun diduga pernah merasa kesal kepada polisi lalu lintas karena ia pernah ditilang, sehingga ia pun mempunyai inisiatif membuat meme yang menyinggung tentang tilang menilang.
Banyak meme yang bisa kita temukan di media sosial yang menyindir dan melecehkan pejabat, pemerintahan dan lain-lain yang bahkan lebih parah dibandingkan kasus pembuatan meme yang di buat Imelda, namun jarang sekali orang-orang yang menjadi objek pada meme tersebut melaporkan atau memperkarakannya. Kasus Imelda yang hanya seorang office boy Bank Swasta dan Aris seorang polisi, bisa dilihat dari status sosial yang dimiliki keduanya sangat berbeda, mungkin  Imelda adalah masyarakat biasa yang pendidikannya rendah, sedangkan Bridga Aris polisi yang mempunyai status dan kekuasaan dimasyarakat bisa melakukan apa saja terhadap Imelda yang hanya bekerja sebagai office boy.
Banyak juga masyarakat yang menanggapi lewat media sosial bahwa mereka bersolidaritas membela Imelda, masyarakat berfikir konflik yang terjadi bukan konflik yang besar dan tidak harus dibesar-besarkan dan  di bawa ke jalur hukum dan menganggap polisi Ponorogo terlalu berlebihan dalam menaggapi meme tersebut.
Jika dikaitkan dengan dunia teori komunikasi, menurut pandangan Robert T. Craig membagi teori komunikasi kedalam tujuh pemikiran atau tujuh tradisi pemikiran yaitu Sosiopsikologi (sociopsychological), Sibernetika (cybernetic), Retorika (rhetorical), Semiotika (semiotic), Sosiokultural (sociocultural), Kritis (critical) dan  Fenomenologi (phenomenology). Fenomena mengenai komunikasi melalui group facebook diatas dan penyebaran pesan melalui media sosial yang menimbulkan konflik,menurut saya masuk dalam tradisi Sosiopsikologi (sociopsychological) dalam teori atribusi dan teori penilaian sosial.


      C.     TRADISI SOSIOPSIKOLOGI (SOCIOPSYCHOLOGICAL)
teori-teori tradisi ini berfokus pada perilaku sosial individu, variabel psikologis, efek indivdu, kepribadian dan sifat, persepsi, serta kognisi. Tradisi ini memperhatikan perilaku dan sifat-sifat pribadi serta kognitif yang menghasilkan perilaku.
Indivdu telah mendominasi pemikiran berat sejak pencerahan abad ke 18 dan orang yang mandiri merupakan unit analisis utama dalam kebanyakan pemikiran barat. Pandangan psikologis ini melihat manusia sebagai kesatuan lahiriah dengan karakteristik yang mengarahkannya kepada prilaku mandiri. Pandangan ini juga melihat pikiran individu sebagai tempat memproses dan memahami informasi serta menghasilkan pesan, tetapi pandangan ini juga mengakui kekuatan yang dapat dimiliki oleh individu melebihi individu lain serta efek informasi pada fikiran manusia, oleh karena itu, hampir tidak mengejutkan jika penjelasan-penjelasan psikologi telah menarik para ahli komunikasi, terutama dalam kajian perubahan sikap dan efek interaksi. 
Banyak karya komunikasi terbaru dalam tradisi ini yang memperhatikan pada persuasi dan perubahan sikap, pemrosesan pesan, bagaimana individu merencanaka startegi pesan, bagaimana penerima pesan memproses informasi pesan, dan efek pesan pada individu.  Bagian yang masih populer dalam pendekatan sosiopsikologis adalah teori sifat, yang mengidentifikasi variabel kepribadian serta kecendrungan-kecendrunagn pelaku komunikasi yang memengaruhi bagaimana individu bertindak dan berinteraksi.
Saat ini, kebanyakan teori komunikasi sosiopsikologis lebih berorientasi pada sisi kognitif, yaitu mmeberikan pemahaman bagaimana manusia meproses pesan. Dalam area ini, tradisi sibernetika dan sosiopsikologis bersama-sama menjelaskan sistem memprosesan individu manusia. Input (informasi) merupakan bagian dari perhatian khusus, sedangkan output (rencana dan prilaku) merupakan bagian dari sistem kognitif. Pertanyaan-pertanyaan penting dalam penelitian area ini, termasuk bagaimana persepsi dipresentasikan secara kognitif serta bagaimana representasinya diprosses melalui mekanisme yang memberikan perhatian, ingatan, campur tangan, seleksi. Motivasi, perencanaan dan pengorganisasian.
Banyak dar karya dalam tradisi ini berasumsi bahwa mekanisme-mekanisme pemrosesan informasi manusia berada diluar kesadaran kita. Sebagai pelaku komunikasi, kita mungkin disadarkan akan aspek-aspek spesifik dari proses, seperti perhatian dan ingatan serta kita akan sangat sadar akan output tertentu, seperti rencana dan prilaku, tetapi proses internal itu sendiri berada di belakang layar. Para ahli komunikasi mencoba untuk mencari an menjelaskan sistem-sistem ini.
 tema yang berbeda dalam tradisi sosiopsikologis :1) bagaimana perilaku komunikasi individu dapat diprediksi ?, 2) bagaimana individu memperhitungkan dan mengakomodasi situasi-situasi komunikasi yang berbeda ?, 3) bagaimana pelaku komunikasi mengadaptasi perilaku komunikasi mengadaptasi perilaku mereka?, 4) bagaimana informasi diasimilasi, diatur, serta digunakan dalam menyusun rencana-rencana dan strategi pesan?, 5) dengan logika apa manusia membuat keputusan tentang bentuk pesan yang hendak digunakan?, 6) bagaimana makna di representasikan dalam fikiran?, 7) bagaimana manusia menghubungkan penyebab-penyebab perilaku ?, 8) bagaimana informasi diintegrasi untuk membentuk sikap dan kepercayaan ?, 9) bagaimana sikap erubah ?, 10) bagaimana pesan-pesan diasimilasi kedalam bentuk kepercayaan/ sikap sistem?, 11) bagaimana ekspektasi dibentuk dalam interaksi dengan orang lain ?, 12) apa yang terjadi ketika ekspektasi tidak tercapai ? variasi-variasi dalam tradisi ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebutt dalam cara yang berbeda.
Tradisi dalam sosiopsikologis dapat dibagi kedalam tiga cabang besar : 1) perilaku, 2) kognitif, 3) biologis. Dalam sudut prilaku, tepriteori beerkonsntrasi pada bagaimana manusia berprilaku dalam situasi-situasi komunikasi. Teori-teori tersebut biasanya melihat hubungan antara perilaku komunikasi, apa yang anda katakan dan lakukan, dalam kaitannya dengan beberapa variabel, seperti sifat pribadi, perbedaan situasi dan pembelajaran.
Sampai sekitar 1960-an, penekanan dalam psikologi adalah bagaimana kita mempelajari perilaku dengan menghubungkan antara antara stimulus dengan respons ketika perilaku tertentu di beri penghargaan, perilaku tersebut akan di ulang. Para ahli psikologis menyebutnya “teori pembelajaran (learning). Ketika respons diberi hukuman, perilaku tersebut akan berhenti atau “unlearned”. Saatini, para ahli tradisi sosiopsikologis mempercayai bahwa penggambaran ini merupakan penjelasan sederhana bagi perilaku manusia.
Pendekatankedua, yaitu teori kognitif yang cukup banyak digandrungi saat ini. Berpusat pada bentuk pemikiran, cabang ini berkonsentrasi pada bagaimana individu memperoleh, menyimpan, dan memproses informasi dalam cara yang mengarahkan output prilaku. Dengan kata lain, apa yang anda lakukan dalam situasi komunikasi bergantung tidak hanya pda stimulus respons, melainkan pada operasi mental yang digunakan untuk mengelola informasi.
Variasi umum yang ketiga adalah dari sudut pandang biologis. Karena kajian genetik diasumsikan menjadi semakin penting, para ahli psikologi dan ahli teori prilaku pun tertarik dalam efek-efek genetik dalam menjelaskan perilaku manusia. Para ahli tersebut percaya bahwa banyak dari sifat, cara berfikir, dan perlaku individu diikat secara biologis dan didapat bukan hanya dari pembelajaran atau faktor-faktor situasi, melainkan dari pengaruh-pengaruh neurobilogis sejak lahir. Teori-teori ini, yang mulai diakui pada tahun 1990-an, mungkin paling baik dikatakan psikobiologis, yang mungkin berupa tradisi yang muncul didalamnya.
Tradisi sosiopsokologis dan sosiokultural berkenaan dengan individu dalam interaksinya dengan yang lain. Tradisi sosiopsikologis mengedepankan individu, sedangkan sosiokultural menekankan persamaan dalam interaksi sosial.
A.     TEORI ATRIBUSI
pada kasus mengenai komunikasi melalui group di facebook menurut saya masuk kedalam teori atribusi karena teori atribusi bermula dengan gagasan bahwa setiap individu mencoba untuk memahami perilaku mereka sendiri dan orang lain dengan mengamati bagaimana sesungguhnya setiap individu berperilaku. Sebagai pelaku komunikasi, kita harus berfikir logis kenapa kita berperilaku demikian, dan kadang-kadang kita ingin agar kita menjelasakan kenapa orang lain juga berperilaku seperti itu. Teori atribusi kemudian berhubungan dengan bagaimana cara kita menyimpulkan hal yang menyebabkan perilaku tersebut, perilaku kita dan perilaku orang lain.
Penemu teori atribusi, Fritz heider, menyebutkan beberapa atribusi kausal yang biasa disebut setiap orang. Semua ini mencangkup penyebab situasional (dipengaruhi oleh lingkungan), pengaruh pribadi (memengaruhi secara pribadi), kemampuan (dapat melakukan sesuatu), usaha (menoca melakukan sesuatu), hasrat (keinginan untuk melakukannya), perasaan (merasa menyukainya), keterlibatan (setuju dengan sesuatu), kewajiban (merasa harus) dan perizinan (telah diizinkan). Berapa kali andan mengatakan sesuatu kepada orang lain dan kemudian bertanya pada diri sendiri “kenapa saya melakukan itu?” jawaban anda mungkin terdengar seperti “saya tidak dapat menahannya, saya harus mengatakannya atau saya ingin melakukannya, saya merasa menyukainya, saya ingin masuk kedalamnya atau saya berkewajiban untuk melakukannya.
Terlepas dari bagaimana anda mungkin menjelaskan apa yang anda katakan, mustahil bahwa anda dapat menemukan satu persatu hubungan antara peryataan anda dan penjelasan anda mengenai hal tersebut. Dengan kata lain, mungkin anda akan menjelaskan alasan anda mengatakan sesuatu dengan berbagai cara. Sejumlah perilaku mungkin dirasakan seperti sesuatu yang muncul dari satu penyebab saja atau sebaliknya, suatu perilaku muncul dari beberapa penyebab. Ketika anda berkomunikasi, anda sering kali harus mengatasi ambiguitas tersebut dan teori atribusi membantu anda memahami bagaimana anda melakukan hal seperti itu.
Heider menyebut bentuk persepsi individu dengan perceptual styles. Ia menyadari bahwa setiap situasi apa pun memunculkan berbagai interpretasi yang masing masing nya kelihatan nyata bagi orang tersebut, bergantung pada gaya hubungan orang tersebut. Sebagai contoh, mungkin anda sangat optimis dan cenderung menghubungkan prilaku dengan nat yang baik. Jika kasusnya seperti ini, maka anda kan mungkin merasa bahwa perilaku pegawai anda berasal dari keinginan untuk peningkatan diri.
Ketika kita yakin bahwa seseorang melakukan sesuatu dengan maksud tertentu, maka dimensi hubungan mengambil peranannya. Jika anda berfikir bahwa seseorang melakukan sesuatu dengan maksud tertentu, maka anda akan megetahui dua dasar hubungan yaitu kemampuan dan motivasi.
Atribusi lain yang menarik terjadi ketika anda berfikir bahwa anda harus melakukan sesuatu. Sebuah kewajiban dipandag bukan sebagai sebuah tuntutan objektif dan adil. Hal ini dapat memiliki pemahaman kebenaran yang luar biasa karena semua orang akan setuju. Sebagai contoh, mungkin anda akan berkata “saya harus pergi ke dokter gigi” atau “ saya harus pergi kedokter gigi” atau saya harus pergi ketempat olahraga lebih sering akan tetapi harus tidak mesi sesuai dengan nilai-nilai. Mungkin anda takut untuk pergi kedokter gigi walaupun anda pikir itu harus. Karena orang ingin konsisten, mereka akan menyeimbang kewajiban dan nilai-nilai mereka, sehingga apa yang ingin mereka lakukan sesuai dengan apa yang mereka fikir seharusnya mereka lakukan.
A.     TEORI PENILAIAN SOSIAL
Teori penilaian sosial, sebuah karya dalam ilmu psikologi sosial, berfokus pada bagaimana kita membuat penilaian pengenai pernyataan yang kita dengar. Sebagai contoh, seandainya teman baik anda mengagetkan anda dengan mendiskusikan sebuah pendapat yang sangat bertentangan dengan yang anda yakini tentang sesuatu. Bagaimana anda akan menangani hal ini, apa akibat dari pernyataan ini pada keyakinan anda, teori penilaian sosial, berdasarkan karya Muzafer Sherif dan koleganya mencoba untuk memperkirakan bagaimana anda dan bagaimana penilaian ini akan beperngaruh pada sistem keyakinan anda sendiri.
Apa yang penilaian sosial katakan tentang komunikasi, pertama kita mengetahui dari karya Sherif bahwa individu menilai hal yang meneyangkan dari sebuah pesan yang didasari oleh kemantapan dari dalam diri dan keterlibatan ego mereka sendiri. Akan tetapi, proses penilaian ini dapat melibatkan adanya penyimpangan. Seperti isi lubang pada ozon ini, seseorang mungkin menyimpang pesan dengan kontras dan asimilasi. Efek kontras ketika semua individu menilai sebuah pesan lebih jauh dari sudut pandang mereka daripada yang seharusnya dan efek asimilasi terjadi ketika manusia menilai sebuah pesan lebih dekat dengan sudut pandang mereka dari pada yang seharusnya. Ketika sebuah pesan tersebut akan terasimilasi, sedangkan pesan yang lebih jauh akan berbeda.
Bidang lain dimana teori penilaian sosial membantu pemahaman kita tentang komunikasi adalah perubahan sikap. Teori penilaian sosial memperkirakan bahwa semua pesan yang jatuh diantara rentang peneriimaan menjadi sesuatu yang lebih persuasif dari pada sebuah argumen yang berada di luar tingkatan ini. Jika anda berfikir bahwa bergabai stimulus harus tersedia supaya dapat memiliki mobil bertenaga listrik sebagai salah satu cara untuk mengurangi pemanasan global, maka anda akan dibujuk oleh sebuah pesan tentang mobil betenaga gas yang dapat memberi anda jarak yang lebih jauh dan menghasilkan emisi, posisi yang disajikan ini masih dalam rentang penerimaan anda.
Lebih jauh lagi, jika anda menilai pesan tersebut dalam rentang penolakan, maka perubahan sikap akan berkurang atau bahkan tidak ada. Pada kenyataannya,  pengaruh boomerang mungkin dapat terjadi di mana pesan yang tidak konsisten sebenarnyab memperkuat posisi anda terhadap isu tersebut. Dengan demikian, sebuah pesan yang berlawanan dengan penelitian dan perkembangan mobil bertenaga listrik dapat membuat anda lebih kuat demi kebaikan mereka.
Ketiga, jika sebuah pesan berada dalam ruangan penerimaan anda atau pada ruang netral anda, semakin berbeda suatu peesan dengan pendirian anda, semakin besar pula perubahan perilaku yang di harapkan. Namun, ketika pesan menyentuh area penolakana, tidak ada kemungkinan untuk berubah. Pernyataan yang lebih jauh dari sikap anda mungkin menyebabkan perubahan yang lebih banyak daripada seseorang yang tidak terlalu jauh dari posisi anda.
Pada akhirnya, semakin  besar keterlibatan ego terhadap isu, rentang penolakan pun akan semakin besar, rentang ketidak terlibatan semakin kecil, dan dengan demikian perubahan sikap yang diperkirakan lebih sedikit. Semua orang yang terikat ego sangat sulit untuk dibujuk. Mereka cenderung menolak pernyataan yang cakupannya lebih luas daripada orang yang tidak terikat dengan ego. 
Jelasnya, keterlibatan ego adalah sebuah konsep inti dallam penilaian sosial. Teori perluasan kemungkinan memperluas cakupan teori penilaian sosial dengan melihat pada perbedaan mengenai bagaimana kita membuat penilaian.

BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN

Proses komunikasi melalui group facebook menimbulkan perubahan perilaku pada setiap individu yang menggunakan sosial media tersebut dan membawa perubahan dalam proses komunikasi manusia, mengapa demikian ? karena di sebabkan dari situasional yang di pengaruhi oleh zaman yang semakin maju dan berkembang.
Dengan adanya internet dan media sosial manusia mencoba melakukan sesuatu dan keinginan untuk melakukannya, seperti berkomunikasi di dunia maya atau disebut dengan komunikasi hipersonal. Mereka melakukan proses komunikasi melalui perantara komputer dengan manusia lainnya, selayaknya sebagai manusia sosial di dunia nyata.
Beberapa individu yang mempunyai akun  dan group facebook, mereka seperti mempunyai “keharusan” memposting atau mengunggah suatu gambar atau video di dalam group tersebut dan secara otomatis anggota group tersebut juga merasa mengharuskan untuk memberikan komentar mengenai postingan tersebut, ini seperti ada dimensi hubungan antara yang memposting dan yang memberikan komentar.
Postingan yang di unggah tersebut katakanlah sebuah meme yang berupa sebuah pesan yang pastinya di tujukan kepada seseorang untuk sekedar informasi atau hanya sekedar hiburan, namun persepsi seseorang itu berbeda-beda, setiap orang dapat menilai sebuah pesan yang di terimanya. Seperti meme yang di buat Imelda yang melihatkan seorang polisi lalu lintas Ponorogo yang bernama Bripda Aris Kurniawan yang tengah memegang radio seluler (Handie Talki) dengan menambah unsur parodi balon percakapan yang menggambarkan komunikasi antara polisi dan istrinya seputar uang hasil tilang.
Bagi sebagian orang itu dijadikan sebuah lulucon atau sebagai hiburan belaka namun tidak pada Bripda Aris, ia menilai pesan yang dikirim atau diunggah kedalam media sosial oleh Imelda sebagai sebuah ejekan dan ledekan sehingga ia merasa direndahkan martabatnya karena pembuatan meme tersebut sehingga ia pun memperkarakannya ke jalur hukum.
Pada teori penilaian sosial mengatakan bahwa semakin besar keterlibatan ego terhadap isu, rentang penolakan pun akan semakin besar, rentang keterlibatan semakin kecil, dan dengan demikian perubahan sikap yang diperkirakan lebih sedikit.
Pesan yang awalnya hanya sebagai lulucon dapat menjadikan sebuah konflik sosial, dimana seseorang merasa tidak senang dengan pesan yang orang sampaikan yang akhirnya dapat menimbulkan perpecahan atau konflik.
Konflik antara dua pihak dapat terjadi pada berbagai macam keadaan dan pada berbagai tingkat kompleksitas. Konflik bisa terjadi karena adanya kebencian, rasa tidak enak dan perasaan tidak senang terhadap seseorang.





B.      SARAN

v  Kasus tersebut dapat memberikan sebuah pelajaran kepada kita semua agar selalu berhati-hati dalam  mengunggah foto dimedia sosial yang dapat menyinggung seseorang, karena setiap orang mempunyai perasaan dan persepsi yang berbeda, tidak hanya foto, video bahkan status atau tulisan yang singkat dapat menimbulkan sebuah konflik.
v  Walau zaman semakin berkembang dan maju, tekhnologi semakin canggih yang memudahkan kita untuk bekomunikasi, namun proses tatap muka dalam berkomunikasi memberikan komunikasi yang lebih efektif dibandingkan lewat media sosial.



DAFTAR PUSTAKA

BUKU
Dean G. Pruit dan Jefrey Z. Rubin, Teori Konflik Sosial, (Pustaka pelajar, Yogyakarta, 2009) hal 9-10

Dr. Robert H. Lauer, Perspektif Tentang Perubahan Sosial, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2001), hal.98

Stephen W. Littlejohn & Karen A. Foss, Teori Komunikasi edisi 9, Salemba Humaniak, Jakarta, 2011 hal 63-65

SUMBER LAIN

Sumber kk.mercubuana.ac.id Modul Ajar Mata Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi.
http://beritagar.id/artikel/berita/polisi-ponorogo-perkarakan-penyebar-meme-dengan-uu-ite
http://www.jkt.life/2015/11/imelda-syahrul-pembuat-meme-yang-menghina-polisi-dibebaskan/
http://news.metrotvnews.com/read/2015/11/05/448025/kapolri-sarankan-mediasi-pembuat-meme-polisi-ponorogo







 Terimakasi udah baca artikel  q, kalau ada yang kurang pas atau tidak sesuai tolong dikoreksi dengan memberi komentar di bawahnya ya, see u di artikel berikutnya...
Bye..... ^,^





Tidak ada komentar:

Posting Komentar