Kali ini q buat
analisis kecil yaitu menganalisis salah satu meme yang dulu sempat jadi konflik antara OB dan aparat kepolisian,
analisis ini juga sebagai tugas mata kuliah q di mata kuliah Perspektif teori
komunikasi. Semoga bermanfaat bagi para pembaca ^,^
“Pembuatan meme
di media sosial”
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Semakin berkembangnya zaman dan tekhnologi yang
semakin maju membuat manusia yang hidup pada saat ini menjadi lebih kreatif,
ditambah dengan adanya keberadaan internet dan media massa yang semakin
berkembang khususnya media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram
dan masih banyak lagi aplikasi media sosial yang dapat di download di gadget
yang berbasis Android, Ios dan Windows.
Hampir semua orang mempunyai gadget, dari umur 7
tahun pun sudah mengerti cara memainkan gedget. Di ketahui dari laporan bulan
maret 2015 mengenai data jumlah pengguna Website, Gadget dan Media Sosial
adalah 72,7 juta pengguna aktif internet, 74 juta pengguna aktif media sosial,
dimana 64 juta penggunanya mengakses media sosial menggunakan perangkat mobile
atau gadget dan 308,2 juta pengguna handphone. Dari laporan tersebut, Facebook
masih menjadi media sosial yang paling banyak digunakan.
Karena begitu mudah dan longgarnya akses
pemanfaatan media internet, maka sudah tidak asing lagi jika dilingkungan
sekitar kita terdapat orang-orang yang menghabiskan hari-harinya di depan
komputer untuk sekedar memainkan peran di media maya (New Media) seperti media sosial,
berkicau di facebook, menyebarkan tautan berita, curahan hati, Video, bahkan membuat meme yang
dapat membawa malapetaka. Tidak semua pengguna internet menyadari bahwa apa
yang diunggahnya adalah juga sekaligus dapat disaksikan oleh para pengguna di
seluruh dunia. Unggahan tersebut dapat direplikasikan secara massal oleh orang
lain tanpa sepengetahuan pemiliknya untuk kemudian tersebar secara liar.
Kebiasaan menyebarkan pesan kiriman informasi dan
verifikasi dijejaring media sosial menjadi
celah bagi kelompok-kelompok tertentu untuk menebar teror, hujatan
kebencian atau hanya sekedar lulucon. dengan keberadaan jejaring media sosial,
sudah dikatakan diatas bahwa manusia menjadi lebih kreatif, sebagai contoh
mengedit gambar dengan sedemikian rupa memberikan efek dan tulisan-tulisan yang
mungkin menyindir atau hanya mengkritik sebuah isu atau fenomena yang sedang
hangat di realitas sosial gambar tersebut sering disebut dengan meme, lalu meme
yang sudah dibuat di unggah di media sosial yang banyak mengundang perhatian
pengguna media sosial lainnya, bahkan
mengomentari unggahan tersebut dengan berbagai komentar. memanfaatkan media
sosial tersebut menjadikan salah satu proses komunikasi.
Sekarang sudah menjadi kebiasaan para pengguna
media sosial untuk membuat meme dari setiap kejadian yang menarik di media
massa, dengan keberadaan internet dan media sosial, ada semacam kegatalan dari
para pengguna media sosial untuk selalu menyebarkan apa yang sedang dirasakan
dan hangat di realitas sosial. Contohnya merasa kesal dengan polisi lalu lintas
yang sering menilang para pengguna sepeda motor dan ingin orang lain pun ikut
kesal dengan kejadian tersebut. Penyebaran tersebut tidak dilakukan secara apa
adanya, melainkan mengubahnya menjadi meme agar pengguna media sosial lain
dapat melihatnya menjadi lelucon atau parodi.
Puluhan bahkan ratusan foto meme berserakan di
media sosial terutama facebook, dengan satu akun nama pengguna facebook dapat
membuat satu group dimana dapat diikuti ribuan pengikut didalam group tersebut,
meme yang diunggah ke dalam group menjadi perbincangan dan menjadi sebuah ajang hiburan
tanpa memperdulikan dampak yang terjadi akibat pembuatan meme tersebut.
Tidak sedikit dari pembuatan meme tersebut
menimbulkan konflik sosial di masyarakat karena kebanyakan pembuatan meme
mengandung kritikan-kritikan yang berupa ledekan atau lulucon yang ditujukan
kepada seseorang, sehingga seseorang yang merasa di buat lulucon menjadikan
sebuah konflik perkara yang berujung pada hukum.
Meskipun yang kita tahu negara kita indonesia
mempunyai Undang-Undang dasar yang mengatur tentang IT, tapi hukum tersebut tidak memberikan rasa takut
kepada pengguna sosial media yang menyalahgunakan penggunaan sosial media,
bahkan sekarang ini telah dikeluarkan nya surat edaran yang dikeluarkan oleh
Kapolri mengenai ujaran kebencian atau Hate Speech agar pengguna sosial media
berhati-hati dalam menulis isi di media sosial.
B. URAIAN KASUS
Kasus yang belum lama beredar di media Televisi dan
media Online tentang seorang Office Boy Bank Swasta di Penorogo, Jawa Timur
yang bernama Imleda Syahrul di tahan kepolisian Resor Ponorogo pada tangga 11
November 2015 karena telah mengunggah sebuah meme di salah satu media sosial group Facebook.
Meme tersebut
melihatkan seorang polisi lalu lintas Ponorogo yang bernama Bripda Aris
Kurniawan yang tengah memegang radio seluler (Handie Talki) dengan menambah
unsur parodi balon percakapan yang menggambarkan komunikasi antara polisi dan
istrinya seputar uang hasil tilang.
Kemudian meme
yang di unggah tersebut diketahui oleh anggota polantas polres ponorogo dan
Bripda Aris, mereka merasa direndahkan martabatnya dalam meme yang dibuat dan di publikasikan oleh Imelda. Karena Bripda
Aris tidak terima dengan perbuatan yang dilakukan Imelda ia pun melaporkan
Imelda kepolisian Resor Ponorogo untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Imelda di tahan diduga telah melanggar ketentuan
pasal 32 ayat 1 UU no 11/2008 tentang Informasi Transaksi elektronik (ITE),
yang berbunyi “setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
dengan cara apapun mengubah,menambah,mengurangi, melakukan transmisi, merusak,
menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik milik orang lain atau publik”. Imelda juga di jerat dengan
Undang-Undag Nomor 11 tahun 2008 tentang Infomasi dan Teknologi dengan ancaman
penjara maksimal 8 tahun.
Berbagai tanggapan muncul menaggapi konflik yang
terjadi antara office boy dan polisi tersebut, salah satunya kapolri Jendral
Badrodin Haiti yang telah mengeluarkan Surat Edaran kebencian untuk masyarakat,
ia mengatakan agar dilakukannya mediasi antara korban dan pelaku seperti yang
tertera dalam surat edaran kapolri tentang Ujaran Kebencian, perlu dilakukan
mediasi sebelum menempuh jalur hukum, ia juga menegaskan agar kasus tersebut di
selsaikan sesuai dengan tata cara pada SE Ujaran Kebencian.
Pada akhirnya, dilakukan mediasi antara imelda dan
bripda Aris. konflik pun tersebut dapat diselsaikan dengan baik, imelda yang
telah ditetapkan sebagai tersangka kini sudah di bebaskan karena Bripda Aris
telah memaafkan Imelda, ia pun mengaku kasihan dengan Imelda sehingga mencabut
laporannya.
C.
RUMUSAN
MASALAH
1. Dikarenakan
teknologi yang semakin berkembang pesat dan muncul nya New Media, merubah cara
berkomunikasi masyarakat yang dahulu hanya bisa dilakukan melalui tatap muka
atau secara langsung dan tidak langsung atau melalu perantara surat, tapi
sekarang komunikasi bisa dilakukan melalui media sosial dengan secara serentak
semua orang dapat melihat isi pesan tersebut seperti di group facebook. Tidak
sedikit pengguna facebook yang membuat group di facebook. Disini kita akan akan
membahas bagaimana proses komunikasi
yang dilakukan di jejaring media sosial khusus nya group facebook.
2.
Tidak sedikit pengguna media sosial khususnya
facebook hanya sekedar iseng mengunggah pesan atau informasi yang berbentuk
foto maupun video yang sudah diedit, kita akan membahas masalah penyebaran informasi atau pesan melalui meme di media sosial khususnya
facebook yang menimbulakan konflik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PROSES
KOMUNIKASI MELALUI GROUP FACEBOOK
Facebook adalah suatu situs jejaring
sosial yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk menjalin hubungan pertemanan
yang seluruh orang yang ada dibelahan dunia untuk dapat berkomunikasi satu dengan
yang lainnya. Facebook merupakan situs pertemanan yang dapat digunakan oleh
manusia untuk bertukar informasi, berbagi foto, video, dan lainnya (Madcoms,
2010:1).
Ciri-ciri dari sebuah akun facebook, yaitu
memiliki pages dan group, dapat melakukan update status lebih dari 140 karakter
sesuai dengan kebutuhan. Bisa langsung memberikan komentar atau memberikan apresiasi
dari updates status orang-orang yang sudah update status orang-orang yang sudah
menjadi teman di facebook, memiliki fasilitas chating yang memungkinkan pemilik
facebook untuk dapat melakukan chat secara langsung dengan orang-orang yang
sudah berteman di facebook, dapat berbagi foto dengan cara tagging, dapat
membuat album foto yang berisikan nama album, lokasi tempat pengambilan foto
dan jika diperlukan dapat berisikan penjelasan singkat mengenai foto tersebut,
dapat membuat album video yang berdurasi 2 menit dan berukuran kurang dari 100
MB (Madcoms, 2010:20-60).
Proses komunikasi yang di lakukan dijejaring media
sosial khusunya di facebook telah membawa perubahan dalam proses komunikasi
manusia. Proses komunikasi yang selama ini dilakukan hanya melalui komunikasi
tatap muka, komunikasi kelompok, komunikasi massa, kini berubah total dengan
adanya tekhnologi internet. Media sosial telah mengubah proses pengiriman
pesan.
Komunikasi menggunakan jejaring media sosial
facebook di jadikan sarana pengganti proses komunikasi secara tatap muka. Fenomena
komunikasi melalui internet sekarang ini bagi sebagian orang tampaknya lebih
menarik dari pada berkomunikasi secara langsung tatap muka. Gelaja ini yang
oleh Walther (1996) disebut sebagai komunikasi dengan perantara internet yang
secara sosial lebih menarik dari pada komunikasi langsung. Komunikasi hiperpersonal,
yakni komunikasi dengan perantara internet yang secara sosial lebih menarik
daripada komunikasi langsung Komunikasi hipersonal pun disinyalir akan mampu menciptakan keakraban, bahkan
ke intiman diantara partisipannya. Hanya aja keintiiman yang terjalin belum
tentu bersesuaian antara yang terjadi dalam realitas dunia maya (hiperrealitas)
dengan realitas yang sesungguhnya.
Group yang dibuat di facebook dapat diikuti oleh
beribu-ribu orang yang mempunyai akun facebook, group facebook ini dapat
dikatakan sebagai salah satu forum yang memang dibuat dan disepakati bersama,
biasanya admin yang membuat group facebook dapat memilih siapa saja yang akan
menjadi anggota dari group facebook tersebut dengan cara mengirim undangan atau
permintaan group facebook yang dikirim kan kepada akun facebook milik pribadi
seseorang, jika orang tersebut menerima undangan group facebook tersebut,
mereka dapat dengan leluasa melihat, menerima, mengirimkan pesan, gambar maupun
video dan bahkan kita dapat mengomentari layak nya sebagai forum diskusi.
Biasanya group di buat oleh orang-orang yang mempunyai
keadaan yang sama, bertempat tinggal di lokasi yang sama, bersekolah di tempat
yang sama adapun yang membuat group facebook untuk ajang berwirausaha yang siapa saja bisa jadi anggota group tersebut. Apapun
dapat dibuat di group facebook. Dengan adanya group facebook mereka tidak perlu
datang secara langsung atau bertatap muka untuk membahas suatu permasalahan,
cukup dengan memberi pertanyaan dengan mempostingnya yang kemudian akun-akun
lain akan menjawab dengan serentak. Seperti contoh group facebook yang ada di
daerah Ponorogo memposting sebuah editan gambar atau foto yang melihatkan seorang polisi lalu lintas sedang bertugas
dengan di tambahkan pesan pada gambar tersebut, belum ada lima menit gambar
tersebut di posting sudah banyak komentar-komentar dari penghuni group facebook
tersebut.
Apa yang terjadi pada komunikasi penyebaran pesan
di atas tentu membawa konsekuensi perubahan perilaku pada masyarakat.
Konsekuensi itu kemudian membentuk sebuah ciri khas yang berbeda dengan
kenyataan masyarakat sekarang. Secara fisik, jumlah anggota, kuantitas lalu
lintas pesan, jenis-jenis pesan berbeda dengan kenyataan masyarakat saat ini. Sebut saja ada bentuk masyarakat lain selain
masyarakat riil yang dikenal secara konseptual atau kenyataan. Masyarakat
itulah yang dinamakan masyarakat virtual (muncul akibat internet ).
Secara definitif, masyarakat nyata adalah sebuah
kehidupan masyarkat yang secara indrawi dapat dirasakan sebagai sebuah
kehidupan nyata, dimana hubungan antara anggota di bangun melalui pengindraan.
Jadi masyarakat nyata adalah masyarkat yang secara nyata bisa di buktikan
disekitar manusia, terutama menyangkut ciri-ciri fisik. Ciri fisik yang bisa di
buktikan itu misalnya ciri yang melekat pada individu, jumlah anggota dalam
masyarakat itu, kegiatan, aturan-aturan,orientasi hidup,tuntutan dan dukungan
dan dinamika yang lain. Misalnya, masyarakat jawa, sunda, madura dll. Yang
itinya mereka bisa diindra keberadaannya.
Sementara itu ada masyrakat maya (virtual/ cyber
comunity) yang secara definitif bisa diartikan sebagai sebuah kehidupan masyarakat
manusia yang tidak dapat secara langsung diindra melalui pengindraan manusia,
namun dapat dirasakan dan disaksikan sebagai sebuah realitas. Mereka ini
memakai seluruh metode kehidupan masyarakat nyata sebagai model yang
dikembangkan didalam segi kehidupan maya.
Secara akar komunitas/masyarakat maya bisa
ditelusuri dari pendapat William Gibson dalam novelnya berjudul Neuromancer. Ia
mengenalkan istilah Cyberspace atau
ruang hampa.
Cyberspace itu sendiri berarti ruang hampa. Ruang
hampa yang dimaksud disini bukan ruang sebenarnya atau dunia nyata sebagaimana
kita merasakan disekitar kita. Ruang hampa itu ruangan yang di bentuk karena
pemakaian komputer. Komputer menciptakan ruang-ruang hampa. Ruang hampa ini
terasa bentuknya sejak adanya multimedia dengan perantara internet.
Disebut komunitas ruang hampa karena anggotanya
berhadapan dengan ilusi. Anggota tidak berhadapan dengan anggota secara fisik
sebagaimana masyarakat nyata.mereka hanya berhadapan dengan layar komputer
(misalnya) atau yang sekarang ini orang lebih berhadapan dengan gadget, seolah
bicara, tertawa, tersenyum, sedih sendiri. Jika di lihat sekilas seperti orang
gila. Tetapi mereka ini sedang berada dalam sebuah ruang imajinasi yang bisa
berhubungan satu sama lain jangan heran juga jika komunikasi virtual disebut
juga komunitas semu.
Dalam hal ini group facebook di jadikan ruang semu
bagi mereka yang menggunakannya, mereka lebih senang berinteraksi lewat group
facebook dibandingkan harus bertemu secara langsung, karena belum tentu anggota
dari group tersebut mengenal satu sama lain, karena ada juga group di buat
hanya untuk sekedar iseng.
B.
Penyebaran
Pesan melalui meme di media sosial yang menimbulkan konflik
Meme di
definisikan sebagai “sebuah ide, kebiasaan atau gaya yang menyebar dari
orang ke orang dalam suatu budaya”. Istilah meme sendiri pertama kali
diperkenalkan oleh seorang ahli biologi asal Britania Raya, Richard
Dawkins. Akar katanya berasal dari bahasa Yunani, yakni mimesis,
yang berarti tiruan. Dawkins memaknai meme sebagai suatu unit informasi budaya
(berupa pemikiran, ide, gagasan, kebiasaan, lagu) yang membentuk pola-pola
kebudayaan tertentu. Ada beberapa jenis meme yaitu meme sindiran, percintaan,
motivasi, joke dan politik.
Pesan yang berbentuk Meme yang dibuat imelda sorang Ofice Boy yang diunggah di akun
facebook miliknya tepatnya di group yang memilki 30 ribu pengikut menimbulkan
sebuah konflik sosial di kehidupannya,awalnya ia hanya iseng membuat meme tersebut untuk sebuah lulucon dan
hiburan semata tetapi malah menyebabkannya tertimpa masalah dan harus
menghadapi konflik yang terjadi.
Menurut Webster (1966), istilah “conflict” didalam
bahasa aslinya berarti suatu “perkelahian,peperangan, atau perjuangan” yaitu
berupa konfrontasi fisik antara beberapa pihak. Tetapi arti kata itu kemudian
berkembang dengan masuknya “ketidaksepakatan yang tajam atau oposisi atas
berbagai kepentingan, ide dan lain-lain”. Dengan kata lain istilah tersebut
sekarang juga menyentuh aspek psikologis dibalik konfrontasi fisik itu sendiri.
Secara singkat, istilah “conflict” menjadi begitu meluas sehingga beresiko kehilangan statusnya sebagai
sebuah konsep tunggal. Konflik berarti persepsi mengenai perbedaan kepentingan
(percived dipergence of interest), atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi
pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan.
Konflik merupakan gejala sosial yang selalu hadir
dalam kehidupan sosial, konflik akan senantiasa ada dalam ruang dan waktu,
dimana saja dan kapan saja. Konflik dan integrasi sosial merupakan gejala yang
selalu mengisi setiap kehidupan manusia. Hal-hal yang mendorong timbulnya
konflik dan integrasi adalah persamaan dan perbedaan kepentingan sosial.
Jika dilihat berdasarkan sifatnya, konflik yang
terjadi pada kasus diatas besifat Destruktif yaitu konflik yang muncul karena
adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun
kelompok terhadap pihak lain.
Bripda Aris menilai pesan yang dikirim atau
diunggah kedalam media sosial oleh Imelda sebagai sebuah ejekan dan ledekan
sehingga ia merasa merasa direndahkan
martabatnya karena pembuatan meme tersebut
sehingga ia pun memperkarakannya ke jalur hukum. Imelda pun diduga pernah
merasa kesal kepada polisi lalu lintas karena ia pernah ditilang, sehingga ia pun
mempunyai inisiatif membuat meme yang
menyinggung tentang tilang menilang.
Banyak
meme yang bisa kita temukan di media
sosial yang menyindir dan melecehkan pejabat, pemerintahan dan lain-lain yang
bahkan lebih parah dibandingkan kasus pembuatan meme yang di buat Imelda, namun jarang sekali orang-orang yang
menjadi objek pada meme tersebut
melaporkan atau memperkarakannya. Kasus Imelda yang hanya seorang office boy Bank Swasta dan Aris seorang polisi,
bisa dilihat dari status sosial yang dimiliki keduanya sangat berbeda,
mungkin Imelda adalah masyarakat biasa
yang pendidikannya rendah, sedangkan Bridga Aris polisi yang mempunyai status
dan kekuasaan dimasyarakat bisa melakukan apa saja terhadap Imelda yang hanya
bekerja sebagai office boy.
Banyak juga masyarakat yang menanggapi lewat media
sosial bahwa mereka bersolidaritas membela Imelda, masyarakat berfikir konflik
yang terjadi bukan konflik yang besar dan tidak harus dibesar-besarkan dan di bawa ke jalur hukum dan menganggap polisi
Ponorogo terlalu berlebihan dalam menaggapi meme tersebut.
Jika dikaitkan dengan dunia teori komunikasi,
menurut pandangan Robert T. Craig membagi teori
komunikasi kedalam tujuh pemikiran atau tujuh tradisi pemikiran yaitu
Sosiopsikologi (sociopsychological),
Sibernetika (cybernetic), Retorika (rhetorical), Semiotika (semiotic), Sosiokultural (sociocultural), Kritis (critical) dan Fenomenologi (phenomenology). Fenomena mengenai komunikasi melalui group facebook
diatas dan penyebaran pesan melalui media sosial yang menimbulkan
konflik,menurut saya masuk dalam tradisi Sosiopsikologi (sociopsychological) dalam teori atribusi dan teori penilaian sosial.
C. TRADISI
SOSIOPSIKOLOGI (SOCIOPSYCHOLOGICAL)
teori-teori tradisi ini berfokus pada
perilaku sosial individu, variabel psikologis, efek indivdu, kepribadian dan
sifat, persepsi, serta kognisi. Tradisi ini memperhatikan perilaku dan
sifat-sifat pribadi serta kognitif yang menghasilkan perilaku.
Indivdu telah mendominasi pemikiran
berat sejak pencerahan abad ke 18 dan orang yang mandiri merupakan unit
analisis utama dalam kebanyakan pemikiran barat. Pandangan psikologis ini
melihat manusia sebagai kesatuan lahiriah dengan karakteristik yang
mengarahkannya kepada prilaku mandiri. Pandangan ini juga melihat pikiran
individu sebagai tempat memproses dan memahami informasi serta menghasilkan
pesan, tetapi pandangan ini juga mengakui kekuatan yang dapat dimiliki oleh
individu melebihi individu lain serta efek informasi pada fikiran manusia, oleh
karena itu, hampir tidak mengejutkan jika penjelasan-penjelasan psikologi telah
menarik para ahli komunikasi, terutama dalam kajian perubahan sikap dan efek
interaksi.
Banyak karya komunikasi terbaru dalam
tradisi ini yang memperhatikan pada persuasi dan perubahan sikap, pemrosesan
pesan, bagaimana individu merencanaka startegi pesan, bagaimana penerima pesan
memproses informasi pesan, dan efek pesan pada individu. Bagian yang masih populer dalam pendekatan
sosiopsikologis adalah teori sifat, yang mengidentifikasi variabel kepribadian
serta kecendrungan-kecendrunagn pelaku komunikasi yang memengaruhi bagaimana
individu bertindak dan berinteraksi.
Saat ini, kebanyakan teori komunikasi
sosiopsikologis lebih berorientasi pada sisi kognitif, yaitu mmeberikan
pemahaman bagaimana manusia meproses pesan. Dalam area ini, tradisi sibernetika
dan sosiopsikologis bersama-sama menjelaskan sistem memprosesan individu
manusia. Input (informasi) merupakan bagian dari perhatian khusus, sedangkan
output (rencana dan prilaku) merupakan bagian dari sistem kognitif.
Pertanyaan-pertanyaan penting dalam penelitian area ini, termasuk bagaimana
persepsi dipresentasikan secara kognitif serta bagaimana representasinya
diprosses melalui mekanisme yang memberikan perhatian, ingatan, campur tangan,
seleksi. Motivasi, perencanaan dan pengorganisasian.
Banyak dar karya dalam tradisi ini
berasumsi bahwa mekanisme-mekanisme pemrosesan informasi manusia berada diluar
kesadaran kita. Sebagai pelaku komunikasi, kita mungkin disadarkan akan
aspek-aspek spesifik dari proses, seperti perhatian dan ingatan serta kita akan
sangat sadar akan output tertentu, seperti rencana dan prilaku, tetapi proses
internal itu sendiri berada di belakang layar. Para ahli komunikasi mencoba
untuk mencari an menjelaskan sistem-sistem ini.
tema yang berbeda
dalam tradisi sosiopsikologis :1) bagaimana perilaku komunikasi individu dapat
diprediksi ?, 2) bagaimana individu memperhitungkan dan mengakomodasi
situasi-situasi komunikasi yang berbeda ?, 3) bagaimana pelaku komunikasi
mengadaptasi perilaku komunikasi mengadaptasi perilaku mereka?, 4) bagaimana
informasi diasimilasi, diatur, serta digunakan dalam menyusun rencana-rencana
dan strategi pesan?, 5) dengan logika apa manusia membuat keputusan tentang
bentuk pesan yang hendak digunakan?, 6) bagaimana makna di representasikan
dalam fikiran?, 7) bagaimana manusia menghubungkan penyebab-penyebab perilaku
?, 8) bagaimana informasi diintegrasi untuk membentuk sikap dan kepercayaan ?,
9) bagaimana sikap erubah ?, 10) bagaimana pesan-pesan diasimilasi kedalam bentuk
kepercayaan/ sikap sistem?, 11) bagaimana ekspektasi dibentuk dalam interaksi
dengan orang lain ?, 12) apa yang terjadi ketika ekspektasi tidak tercapai ?
variasi-variasi dalam tradisi ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebutt
dalam cara yang berbeda.
Tradisi dalam sosiopsikologis dapat dibagi kedalam
tiga cabang besar : 1) perilaku, 2) kognitif, 3) biologis. Dalam sudut prilaku,
tepriteori beerkonsntrasi pada bagaimana manusia berprilaku dalam
situasi-situasi komunikasi. Teori-teori tersebut biasanya melihat hubungan
antara perilaku komunikasi, apa yang anda katakan dan lakukan, dalam kaitannya
dengan beberapa variabel, seperti sifat pribadi, perbedaan situasi dan
pembelajaran.
Sampai sekitar 1960-an, penekanan dalam psikologi
adalah bagaimana kita mempelajari perilaku dengan menghubungkan antara antara
stimulus dengan respons ketika perilaku tertentu di beri penghargaan, perilaku
tersebut akan di ulang. Para ahli psikologis menyebutnya “teori pembelajaran
(learning). Ketika respons diberi hukuman, perilaku tersebut akan berhenti atau
“unlearned”. Saatini, para ahli tradisi sosiopsikologis mempercayai bahwa
penggambaran ini merupakan penjelasan sederhana bagi perilaku manusia.
Pendekatankedua, yaitu teori kognitif yang cukup
banyak digandrungi saat ini. Berpusat pada bentuk pemikiran, cabang ini
berkonsentrasi pada bagaimana individu memperoleh, menyimpan, dan memproses
informasi dalam cara yang mengarahkan output prilaku. Dengan kata lain, apa
yang anda lakukan dalam situasi komunikasi bergantung tidak hanya pda stimulus
respons, melainkan pada operasi mental yang digunakan untuk mengelola
informasi.
Variasi umum yang ketiga adalah dari sudut pandang
biologis. Karena kajian genetik diasumsikan menjadi semakin penting, para ahli
psikologi dan ahli teori prilaku pun tertarik dalam efek-efek genetik dalam
menjelaskan perilaku manusia. Para ahli tersebut percaya bahwa banyak dari
sifat, cara berfikir, dan perlaku individu diikat secara biologis dan didapat
bukan hanya dari pembelajaran atau faktor-faktor situasi, melainkan dari
pengaruh-pengaruh neurobilogis sejak lahir. Teori-teori ini, yang mulai diakui
pada tahun 1990-an, mungkin paling baik dikatakan psikobiologis, yang mungkin
berupa tradisi yang muncul didalamnya.
Tradisi
sosiopsokologis dan sosiokultural berkenaan dengan individu dalam interaksinya
dengan yang lain. Tradisi sosiopsikologis mengedepankan individu, sedangkan
sosiokultural menekankan persamaan dalam interaksi sosial.
A.
TEORI
ATRIBUSI
pada kasus mengenai komunikasi melalui group di
facebook menurut saya masuk kedalam teori atribusi karena teori atribusi
bermula dengan gagasan bahwa setiap individu mencoba untuk memahami perilaku
mereka sendiri dan orang lain dengan mengamati bagaimana sesungguhnya setiap
individu berperilaku. Sebagai pelaku komunikasi, kita harus berfikir logis
kenapa kita berperilaku demikian, dan kadang-kadang kita ingin agar kita
menjelasakan kenapa orang lain juga berperilaku seperti itu. Teori atribusi
kemudian berhubungan dengan bagaimana cara kita menyimpulkan hal yang menyebabkan
perilaku tersebut, perilaku kita dan perilaku orang lain.
Penemu teori atribusi, Fritz heider, menyebutkan
beberapa atribusi kausal yang biasa disebut setiap orang. Semua ini mencangkup
penyebab situasional (dipengaruhi oleh lingkungan), pengaruh pribadi
(memengaruhi secara pribadi), kemampuan (dapat melakukan sesuatu), usaha
(menoca melakukan sesuatu), hasrat (keinginan untuk melakukannya), perasaan
(merasa menyukainya), keterlibatan (setuju dengan sesuatu), kewajiban (merasa
harus) dan perizinan (telah diizinkan). Berapa kali andan mengatakan sesuatu
kepada orang lain dan kemudian bertanya pada diri sendiri “kenapa saya
melakukan itu?” jawaban anda mungkin terdengar seperti “saya tidak dapat
menahannya, saya harus mengatakannya atau saya ingin melakukannya, saya merasa
menyukainya, saya ingin masuk kedalamnya atau saya berkewajiban untuk
melakukannya.
Terlepas dari bagaimana anda mungkin menjelaskan
apa yang anda katakan, mustahil bahwa anda dapat menemukan satu persatu
hubungan antara peryataan anda dan penjelasan anda mengenai hal tersebut.
Dengan kata lain, mungkin anda akan menjelaskan alasan anda mengatakan sesuatu
dengan berbagai cara. Sejumlah perilaku mungkin dirasakan seperti sesuatu yang
muncul dari satu penyebab saja atau sebaliknya, suatu perilaku muncul dari
beberapa penyebab. Ketika anda berkomunikasi, anda sering kali harus mengatasi
ambiguitas tersebut dan teori atribusi membantu anda memahami bagaimana anda
melakukan hal seperti itu.
Heider menyebut bentuk persepsi individu dengan
perceptual styles. Ia menyadari bahwa setiap situasi apa pun memunculkan
berbagai interpretasi yang masing masing nya kelihatan nyata bagi orang
tersebut, bergantung pada gaya hubungan orang tersebut. Sebagai contoh, mungkin
anda sangat optimis dan cenderung menghubungkan prilaku dengan nat yang baik.
Jika kasusnya seperti ini, maka anda kan mungkin merasa bahwa perilaku pegawai
anda berasal dari keinginan untuk peningkatan diri.
Ketika kita yakin bahwa seseorang melakukan sesuatu
dengan maksud tertentu, maka dimensi hubungan mengambil peranannya. Jika anda
berfikir bahwa seseorang melakukan sesuatu dengan maksud tertentu, maka anda
akan megetahui dua dasar hubungan yaitu kemampuan dan motivasi.
Atribusi lain yang menarik terjadi ketika anda
berfikir bahwa anda harus melakukan sesuatu. Sebuah kewajiban dipandag bukan
sebagai sebuah tuntutan objektif dan adil. Hal ini dapat memiliki pemahaman
kebenaran yang luar biasa karena semua orang akan setuju. Sebagai contoh,
mungkin anda akan berkata “saya harus pergi ke dokter gigi” atau “ saya harus
pergi kedokter gigi” atau saya harus pergi ketempat olahraga lebih sering akan
tetapi harus tidak mesi sesuai dengan nilai-nilai. Mungkin anda takut untuk
pergi kedokter gigi walaupun anda pikir itu harus. Karena orang ingin
konsisten, mereka akan menyeimbang kewajiban dan nilai-nilai mereka, sehingga
apa yang ingin mereka lakukan sesuai dengan apa yang mereka fikir seharusnya
mereka lakukan.
A.
TEORI
PENILAIAN SOSIAL
Teori penilaian sosial, sebuah karya dalam ilmu psikologi
sosial, berfokus pada bagaimana kita membuat penilaian pengenai pernyataan yang
kita dengar. Sebagai contoh, seandainya teman baik anda mengagetkan anda dengan
mendiskusikan sebuah pendapat yang sangat bertentangan dengan yang anda yakini
tentang sesuatu. Bagaimana anda akan menangani hal ini, apa akibat dari
pernyataan ini pada keyakinan anda, teori penilaian sosial, berdasarkan karya
Muzafer Sherif dan koleganya mencoba untuk memperkirakan bagaimana anda dan
bagaimana penilaian ini akan beperngaruh pada sistem keyakinan anda sendiri.
Apa yang penilaian sosial katakan tentang
komunikasi, pertama kita mengetahui dari karya Sherif bahwa individu menilai
hal yang meneyangkan dari sebuah pesan yang didasari oleh kemantapan dari dalam
diri dan keterlibatan ego mereka sendiri. Akan tetapi, proses penilaian ini
dapat melibatkan adanya penyimpangan. Seperti isi lubang pada ozon ini,
seseorang mungkin menyimpang pesan dengan kontras dan asimilasi. Efek kontras
ketika semua individu menilai sebuah pesan lebih jauh dari sudut pandang mereka
daripada yang seharusnya dan efek asimilasi terjadi ketika manusia menilai
sebuah pesan lebih dekat dengan sudut pandang mereka dari pada yang seharusnya.
Ketika sebuah pesan tersebut akan terasimilasi, sedangkan pesan yang lebih jauh
akan berbeda.
Bidang lain dimana teori penilaian sosial membantu
pemahaman kita tentang komunikasi adalah perubahan sikap. Teori penilaian
sosial memperkirakan bahwa semua pesan yang jatuh diantara rentang peneriimaan
menjadi sesuatu yang lebih persuasif dari pada sebuah argumen yang berada di
luar tingkatan ini. Jika anda berfikir bahwa bergabai stimulus harus tersedia
supaya dapat memiliki mobil bertenaga listrik sebagai salah satu cara untuk
mengurangi pemanasan global, maka anda akan dibujuk oleh sebuah pesan tentang
mobil betenaga gas yang dapat memberi anda jarak yang lebih jauh dan
menghasilkan emisi, posisi yang disajikan ini masih dalam rentang penerimaan
anda.
Lebih jauh lagi, jika anda menilai pesan tersebut
dalam rentang penolakan, maka perubahan sikap akan berkurang atau bahkan tidak
ada. Pada kenyataannya, pengaruh
boomerang mungkin dapat terjadi di mana pesan yang tidak konsisten sebenarnyab
memperkuat posisi anda terhadap isu tersebut. Dengan demikian, sebuah pesan
yang berlawanan dengan penelitian dan perkembangan mobil bertenaga listrik
dapat membuat anda lebih kuat demi kebaikan mereka.
Ketiga,
jika sebuah pesan berada dalam ruangan penerimaan anda atau pada ruang netral
anda, semakin berbeda suatu peesan dengan pendirian anda, semakin besar pula
perubahan perilaku yang di harapkan. Namun, ketika pesan menyentuh area
penolakana, tidak ada kemungkinan untuk berubah. Pernyataan yang lebih jauh
dari sikap anda mungkin menyebabkan perubahan yang lebih banyak daripada
seseorang yang tidak terlalu jauh dari posisi anda.
Pada
akhirnya, semakin besar keterlibatan ego
terhadap isu, rentang penolakan pun akan semakin besar, rentang ketidak
terlibatan semakin kecil, dan dengan demikian perubahan sikap yang diperkirakan
lebih sedikit. Semua orang yang terikat ego sangat sulit untuk dibujuk. Mereka
cenderung menolak pernyataan yang cakupannya lebih luas daripada orang yang
tidak terikat dengan ego.
Jelasnya,
keterlibatan ego adalah sebuah konsep inti dallam penilaian sosial. Teori
perluasan kemungkinan memperluas cakupan teori penilaian sosial dengan melihat
pada perbedaan mengenai bagaimana kita membuat penilaian.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Proses komunikasi melalui group facebook menimbulkan perubahan perilaku pada
setiap individu yang menggunakan sosial media tersebut dan membawa perubahan
dalam proses komunikasi manusia, mengapa demikian ? karena di sebabkan dari
situasional yang di pengaruhi oleh zaman yang semakin maju dan berkembang.
Dengan adanya internet dan media sosial manusia mencoba melakukan
sesuatu dan keinginan untuk melakukannya, seperti berkomunikasi di dunia maya
atau disebut dengan komunikasi hipersonal. Mereka melakukan proses komunikasi
melalui perantara komputer dengan manusia lainnya, selayaknya sebagai manusia
sosial di dunia nyata.
Beberapa individu yang mempunyai akun
dan group facebook, mereka seperti mempunyai “keharusan” memposting atau
mengunggah suatu gambar atau video di dalam group tersebut dan secara otomatis
anggota group tersebut juga merasa mengharuskan untuk memberikan komentar
mengenai postingan tersebut, ini seperti ada dimensi hubungan antara yang
memposting dan yang memberikan komentar.
Postingan yang di unggah tersebut katakanlah sebuah
meme yang berupa sebuah pesan yang pastinya di tujukan kepada seseorang untuk
sekedar informasi atau hanya sekedar hiburan, namun persepsi seseorang itu
berbeda-beda, setiap orang dapat menilai sebuah pesan yang di terimanya.
Seperti meme yang di buat Imelda yang melihatkan seorang polisi lalu lintas
Ponorogo yang bernama Bripda Aris Kurniawan yang tengah memegang radio seluler
(Handie Talki) dengan menambah unsur parodi balon percakapan yang menggambarkan
komunikasi antara polisi dan istrinya seputar uang hasil tilang.
Bagi sebagian orang itu dijadikan sebuah lulucon
atau sebagai hiburan belaka namun tidak pada Bripda Aris, ia menilai pesan yang
dikirim atau diunggah kedalam media sosial oleh Imelda sebagai sebuah ejekan
dan ledekan sehingga ia merasa direndahkan martabatnya karena pembuatan meme tersebut sehingga ia pun memperkarakannya
ke jalur hukum.
Pada teori penilaian sosial mengatakan bahwa
semakin besar keterlibatan ego terhadap isu, rentang penolakan pun akan semakin
besar, rentang keterlibatan semakin kecil, dan dengan demikian perubahan sikap
yang diperkirakan lebih sedikit.
Pesan yang awalnya hanya sebagai lulucon dapat
menjadikan sebuah konflik sosial, dimana seseorang merasa tidak senang dengan
pesan yang orang sampaikan yang akhirnya dapat menimbulkan perpecahan atau
konflik.
Konflik antara dua pihak dapat terjadi pada
berbagai macam keadaan dan pada berbagai tingkat kompleksitas. Konflik bisa
terjadi karena adanya kebencian, rasa tidak enak dan perasaan tidak senang
terhadap seseorang.
B.
SARAN
v Kasus
tersebut dapat memberikan sebuah pelajaran kepada kita semua agar selalu
berhati-hati dalam mengunggah foto
dimedia sosial yang dapat menyinggung seseorang, karena setiap orang mempunyai
perasaan dan persepsi yang berbeda, tidak hanya foto, video bahkan status atau
tulisan yang singkat dapat menimbulkan sebuah konflik.
v Walau
zaman semakin berkembang dan maju, tekhnologi semakin canggih yang memudahkan
kita untuk bekomunikasi, namun proses tatap muka dalam berkomunikasi memberikan
komunikasi yang lebih efektif dibandingkan lewat media sosial.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Dean G. Pruit dan
Jefrey Z. Rubin, Teori Konflik Sosial, (Pustaka pelajar, Yogyakarta, 2009) hal
9-10
Dr. Robert H. Lauer,
Perspektif Tentang Perubahan Sosial, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2001), hal.98
Stephen W. Littlejohn
& Karen A. Foss, Teori Komunikasi edisi 9, Salemba Humaniak, Jakarta, 2011
hal 63-65
SUMBER LAIN
Sumber
kk.mercubuana.ac.id Modul Ajar Mata Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi.
http://beritagar.id/artikel/berita/polisi-ponorogo-perkarakan-penyebar-meme-dengan-uu-ite
http://www.jkt.life/2015/11/imelda-syahrul-pembuat-meme-yang-menghina-polisi-dibebaskan/
http://news.metrotvnews.com/read/2015/11/05/448025/kapolri-sarankan-mediasi-pembuat-meme-polisi-ponorogo
Bye..... ^,^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar