Kisah ini dialami oleh teman saya, yang akan saya kemas alur certinya semenarik mungkin.
Selamat membaca 😊
" Makhluk Penunggu Pohon Beringin "
Kisah ini di alami oleh anak perempuan bernama Tari, ia anak yang terbilang pemberani diantara teman-teman nya. Tingkah laku Tari yang sama seperti anak laki-laki membuat diri nya di cap sebagai anak yang tomboy. Ia gemar sekali main bola, memanjat pohon bahkan lari-lari diatas tembok tetangga. Setelah pulang sekolah seperti biasa Tari hanya menaruh tasnya lalu langsung pergi bermain bersama teman-temannya.
“Praaak” suara tas dilempar
“Tari, Makan dulu..!” Teriak ibu Tari
“Nanti aja mah..” saut Tari sambil berlari menuju keluar rumah
“Ya ampun, ini anak belum ganti baju, belum makan pulak, sudah main kabur aja..!” Gerutu ibu Tari sambil merapikan tas Tari yang dilempar.
“Main apa kita nih ..?" Tanya Tari kepada temannya Doni
“Pohon mangga di ujung taman buahnya udah gede-gede, kita manjat yuk ? sepertinya enak ngerujak siang-siang gini” ajak Doni
“ya udah, yuk “ Tari pun meng iyakan ajakan Doni untuk memanjat pohon manga yang berada di ujung taman.
Berjalan lah mereka menyusuri taman, saat mereka berjalan seperti biasa anak seumuran Tari dan Doni suka bercanda seperti dorong-dorongan dan saling melontar kan kata-kata yang nyeleneh atau kurang pantas. Ditengah taman terdapat pohon beringin yang tinggi dan rindang, tak jarang mereka bergelayutan di ranting-ranting yang terguntai kebawah.
“Tar, pohon beringin ini kira-kira ada penunggunya tidak ya ?” Tanya Doni sambal sesekali bergelayut disalah satu ranting pohon.
“mana gue tahu, coba lo Tanya aja sama pohonnya tuh..!” jawab Tari asal-asalan sambal berjalan meninggalkan Doni.
“woi, tungguin gue, takut gue” teriak Doni sedikit berlari mengejar Tari
“huu, dasar peak..!” jawab Tari kecut sambal memukul kepala Doni
“aauu, sakit !” teriak Doni
“eh, serius tadi gue merasa ada yang liatin dari atas pohon beringin itu !” lanjut Doni seraya menakuti Tari.
“mana ada setan tengah hari bolong gini sih Doni, gak usah nakut-nakutin gue deh” saut Tari sedikit kesal
“hahaha..!” Doni pun terbahak melihat Tari yang begitu kesal
Mereka berdua pun menuju pohon mangga, lalu menaiki pohon tersebut, Tari dengan lincah menaiki pohon mangga tersebut, diambilnya beberapa buah mangga lalu dilemparnya kebawah. Tidak lama kemudian ada beberapa teman Tari yg lain sedang lewat.
“bruk..” Suara mangga jatuh
“apaan tuh ?” kata teman tari yang bernama Reza
Tari dan Doni pun tertawa diatas pohon melihat Reza yang kaget.
“wah, sialan lo, ngapain lo pada diatas kayak onyet aja..!” teriak Reza
“yee, sini lo naik keatas, enak nih sambal tiduran makanin mangga” ajak tari kepada Reza untuk naik ke atas.
“nanti dulu, gue di suruh ibu gue beli terigu” jawab Reza sambal berlalu
Waktu sudah menunjukan jam 3 sore, Tari masih saja bermain. Ia tidak tahu ibunya sedari tadi mencari dirinya.
Tidak lama kemudian mereka pun bubar pulang kerumah masing-masing.
“nanti gue samper ya” teriak Tari kepada Doni
“Iya" Jawab Doni dan temannya yg lain sambil berlari menuju rumah masing.
###
Sesampainya di rumah, Tari dimarahi oleh ibunya karna main terus, dan mengancam Tari untuk tidak bermain lagi. Bagaimana tidak murka, dari pulang sekolah Tari belum melepas baju seragamnya dan langsung pergi main, itu membuat ibunya sangat geram.
"Pokoknya kamu tidak boleh main ya, diem dirumah, awas kamu ya" ancam ibu Tari
Tari hanya diam wajahnya terlihat kesal, mana betah seorang Tari hanya menonton tv di dalam rumah. Sore berlalau, sehabis Magrib, Tari keluar diam-diam lewat jendela, tanpa pengetahuan ibunya ia pun pergi bermain dan menghampiri rumah Doni dan teman-teman nya yg lain.
“Kemana kita ?” tanya Doni
“Kelapangan taman aja yuk..” ajak Tari
Tanpa ada yg menjawab, mereka langsung menuju taman.
Di taman tersebut, terdapat sebuah lapangan yang tidak jauh dari pohon beringin, Tari dan teman-teman nya bermain dilapangan, awalnya hanya bermain-main biasa kemudian mereka bermain petak umpat. Doni yang berjaga saat itu, Tari dan teman yang lainnya mencari tempat persembunyian.
“Satu..Dua..Tiga.." Hitung Doni menandakan dia sedang menunggu teman-teman nya mencari lokasi tempat sembunyi sambil menutup matanya.
Tari lari mencari tempat persembunyian, ia melihat ada becak tak bertuan yang mangkal dibawah pohon beringin, Diapun tanpa pikir panjang mengumpat di balik becak tersebut. Tidak ada perasaan takut saat itu, ia hanya was was takut keberadaan diri nya ketahuan oleh Doni.
Singkat cerita, saat Dia mengumpat di balik becak yang ada di bawah pohon beringin, batang pohon beringin itu berubah menjadi sebuah kaki besar yang berbulu, awalnya Tari tidak menyadari, namun saat di perhatikan baik-baik batang pohon tersebut seperti terlihat ada bulu-bulu yang cukup panjang, saat itu penerangan hanya mengandalkan pantulan cahaya dari rumah warga.
Kemudian Tari penasaran apakah itu batang pohon atau hal yang lain. Ia memegang kaki yang berbulu lebat itu, saat ia memegang dan perlahan matanya melihat ke atas pohon beringin, betapa kaget nya, Tari melihat sosok yang sangat besar dan berbulu matanya merah menyala, tak hanya itu makhluk lainnya pun berada di batang pohon itu, Tari melihat ada perempuan yang duduk dibatang pohon memakai baju putih, rambutnya sangat panjang mengguntai kebawah.
Tari hanya bisa terdiam kaget melihat keatas pohon beringin tersebut, mulutnya dan kakinya seperti terkunci, semua terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Tari tidak percaya apa yang ia lihat. Makhluk-makhluk itu menatap sembari melototi tari dari atas. Tari rasanya ingin teriak dan berlari, namun tidak bisa.
Beberapa menit kemudian, Tari dibuyarkan oleh suara Doni yang memanggilnya.
“Woi Tari, Keluar Lo !” teriak Doni
Tari pun kaget lalu tersadar, ia berlari dengan cepat menuju Doni dan meninggal kan pohon beringin itu. Muka tari terlihat pucat saat itu.
“Muka Lo kenapa Tar ?” tanya Doni
“Ah muka gue ? Kenapa ?” jawab Tari balik bertanya
“Muka Lo pucet, kaya habis liat setan !" ledek Doni sambil cengengesan
“hahaha gila kali ya, gak lah, cape gue habis lari-lari" jawab Tari menyembunyikan ketakutannya, padahal memang betul dirinya habis liat makhluk penunggu pohon beringin, tapi Tari tidak mau bercerita kepada doni apa yang barusan ia lihat di pohon beringin itu. Ia khawatir jika Doni dan yang lain nya tahu, takut mereka tidak mau diajak bermain di taman lagi. Tari pun bungkam.
Tidak lama kemudian, mereka masih berlanjut bermain, seperti nya kejadian barusan yang menimpa Tari begitu saja berlalu dipikiran nya dan tidak mau menghiraukan makhluk-makhluk yang ada dipohon beringin. (ahh memang dasar anak kecil gak ada takutnya)
Tidak ada kata lelah, Tari dan teman-teman nya itu terus bermain bola sampai larut malam, tiba-tiba bola terpental ke arah pohon seri yang tidak jauh dari pohon beringin, sialnya Tari yang harus mengambil bola itu, dengan terpaksa Tari pun mengambil bola tersebut. Saat ia tiba mengambil bola, Tari merasakan ada yang melampar sesuatu ke kepalanya, dilihat sebuah batu krikil kecil, sepertinya yang melempar dari arah pohon beringin. Tari berusaha dengan keras agar tidak melihat keatas pohon beringin, lalu buru-buru ia mengambil bola tersebut dan berlari sekencang mungkin.
“Udahaan yuk, cape gue" kata Tari nafasnya terpengkal-pengkal
“Ya udah yuk.. udah malem juga" jawab Reza
Mereka pun membubarkan diri pulang kerumah masing-masing. Tari harus melewati pohon beringin itu jika ingin menuju rumahnya, untungnya ada Doni yang searah dengan rumahnya, setelah melewati pohon rindang tersebut, Tari merasa ada yang mengikutinya. Tanpa sengaja tari pun berkata
“Ngapain sih Lo ngikutin gue, pergi sana..!" kata tari ngedumel
“Sana pergi, jangan ikutin gue" lanjut tari
Tari merasakan kehadiran makhluk halus sedang mengikuti dirinya menuju rumah, mulutnya seakan berbicara sendiri.
Doni yang sedari tadi melihat tari, keheranan,
“Ngomong sama siapa tuh anak" gumamnya dalam hati.
Doni pun berlalu, rumah nya lebih dulu sampai dibanding rumah Tari. Rumah Tari harus melewati sebuah pos, dimana pos tersebut sudah terbengkalai, jarang orang duduk-duduk disana. Tari terus berjalan, tidak lama kemudian dari arah pos terdengar orang sedang menggaruk garuk kedingding pos yang terbuat dari bambu itu, dilihat tidak ada siapa-siap, Tari lari terbirit birit. Bagaimanapun Tari masih anak-anak, ia pun merasakan ketakutan dengan apa yang telah menimpa dirinya sedari tadi.
Sesampainya dirumah.
“Maaah...” Teriak Tari sambil membuka pintu.
“Ya ampun, kemana saja ini anak, dibilang jangan main" kata ibu Tari jengkel
Sementara Tari terengah-engah dengan nafas nya sedari tadi. Ia pun menceritakan kejadian yang di alami nya saat bermain tadi. Ibu Tari kaget mendengar apa yang dialami oleh Tari.
“Tuhkan, makanyaa kalau orang tua nasihatin itu denger, nih denger pake kuping" omel ibu tari sambil menjewer Tari
“Kuping itu digunain, jangan cuma dicantel ajaa..!" lanjut Ibu Tari sambil membawa Tari kearah kamar mandi.
Tari hanya diem, ia pikir ibu nya akan merasa iba dengan apa yang menimpa Tari, namun ternyata ibu Tari malah ngomel tidak karuan. Ibu Tari tak berhenti mengomel.
“Untung kamu gak diangkat anak tuh sama penunggu pohon beringin, emang dasar anak bandel banget...**"'"#$_##@)#)#(#(****$_"ibu Tari masih mengomel panjang lebar saking jengkel nya
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar